Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Rupiah Loyo Terhantam Dolar! Menko Airlangga Bongkar Penyebab Utamanya, Ternyata Gara-Gara Faktor Ini!

Nurul Hidayati • Rabu, 6 Mei 2026 | 17:09 WIB
Airlangga Hartarto
Airlangga Hartarto

LombokPost - Nilai tukar Rupiah yang tengah berada dalam tekanan terhadap Dolar Amerika Serikat (AS) mendapat atensi serius dari pemerintah.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, akhirnya buka suara memberikan penjelasan terkait fenomena lesunya mata uang Garuda tersebut.

Dalam keterangan pers yang digelar di Jakarta pada Selasa (5/5), Airlangga mengungkapkan bahwa pelemahan Rupiah saat ini tidak lepas dari pengaruh dinamika global yang sedang bergejolak.

Baca Juga: Rupiah Berpotensi Rp 17.550 Per USD, Lonjakan Harga Energi Turut Jadi Pemicu

Menurutnya, kondisi pasar internasional memaksa Rupiah harus bermain di zona merah akibat faktor-faktor eksternal yang sulit dihindari.

Permintaan Dolar Melonjak

Selain faktor geopolitik dan dinamika global ada faktor lainnya.

Baca Juga: Bukan Sekadar Rupiah, Pedagang Musiman di Asrama Haji Mataram Cari Berkah "Tamu Allah"

Airlangga menyoroti adanya peningkatan permintaan yang signifikan terhadap Dolar AS di pasar domestik maupun internasional.

Termasuk adanya permintaan saat pelaksanaan haji seperti saat ini.

Tingginya kebutuhan akan mata uang Negeri Paman Sam tersebut secara otomatis memberikan tekanan hebat pada posisi Rupiah.

Baca Juga: Rupiah Sentuh Rp 17.300 per USD, Bank Indonesia Perkuat Intervensi

"Pelemahan ini dipengaruhi dinamika global serta peningkatan permintaan terhadap dolar AS," ujar Airlangga saat memaparkan capaian pertumbuhan ekonomi triwulan I tahun 2026.

Ekonomi Tetap Tumbuh Solid

Menariknya, meski nilai tukar sedang goyang, Airlangga menegaskan bahwa fundamen ekonomi nasional sejatinya masih berada di jalur yang benar. Hal ini dibuktikan dengan rilis data terbaru yang menunjukkan ekonomi Indonesia pada triwulan I-2026 tetap tumbuh solid di level 5,61 persen (yoy).

Capaian pertumbuhan ini bahkan lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan pada triwulan sebelumnya yang tercatat sebesar 5,39 persen. Sinergi antara kebijakan moneter Bank Indonesia dan kebijakan fiskal pemerintah diharapkan mampu menjaga stabilitas nasional di tengah ketidakpastian pasar valuta asing yang kian dinamis.

”Pertumbuhan ini adalah di antara negara G20 tertinggi. Jadi, kita di atas China, di atas Singapura, Korea Selatan, Arab bahkan Amerika," kata Airlangga.

Editor : Redaksi Lombok Post Online
#Pelemahan Rupiah #dolar as #kurs rupiah #ekonomi global 2026 #Airlangga Hartarto