LombokPost - Perbedaan penetapan awal Ramadan dan Lebaran tidak terjadi pada Idul Adha.
Sidang Isbat Kementerian Agama (Kemenag) tadi malam (17/5) menetapkan Idul Adha jatuh pada Rabu (27/5) pekan depan.
Sama dengan isi maklumat Muhammadiyah yang sudah diterbitkan beberapa bulan lalu.
Baca Juga: Gunakan Kalender Hijriah Global Tunggal, Muhammadiyah Tetapkan Lebaran Idulfitri 20 Maret
"Hilal bisa dilihat di Kabupaten Lamongan, Jawa Timur," kata Menag Nasaruddin Umar.
Laporan pengamatan hilal sudah dilakukan oleh petugas yang disumpah pengadilan agama setempat. Dengan demikian, sidang isbat menetapkan 1 Zulhijjah jatuh pada 18 Mei.
"Maka Idul Adha (diperingati) 10 Zulhijjah, jatuh pada Rabu, 27 Mei," kata Nasaruddin.
Baca Juga: Lebaran 2026 Peluang Berbeda: Muhammadiyah Tetapkan 20 Maret, BRIN dan BMKG Prediksi 21 Maret
Hasil sidang isbat itu, lanjutnya, bisa segera menjadi acuan pelaksanaan ibadah sepanjang bulan Zulhijjah.
Di antaranya adalah puasa Arafah yang diselenggarakan sehari sebelum Idul Adha (9 Zulhijjah). Termasuk pula puasa Tarwiyah.
Nasaruddin menambahkan, sidang isbat mengintegrasikan data hisab serta pengamatan atau rukyat. Kemudian juga menggunakan kriteria MABIMS.
Baca Juga: Lebaran 2026 Berpotensi Beda Lagi! Muhammadiyah Tetapkan 20 Maret, Pemerintah dan NU ke 21 Maret?
Sebelum sidang isbat, Kemenag lebih dahulu melaksanakan seminar posisi hilal berdasarkan perhitungan hisab.
Momentum Perkuat Ukhuwah
Untuk wilayah Indonesia, berdasarkan hisab, tinggi hilal sekitar 3 derajat sampai 6 derajat di atas ufuk. Angka tersebut sudah cukup tinggi sehingga hilal sangat mungkin dilihat menggunakan teropong oleh para perukyat. Termasuk laporan dari Lamongan yang menjadi salah satu acuan sidang isbat menetapkan awal Zulhijjah.
Nasaruddin bersyukur tidak ada perbedaan penetapan awal Zulhijjah sehingga umat Islam bersama-sama merayakan Idul Adha pada 27 Mei. "Momentum memperkuat ukhuwah sebagai bangsa Indonesia," katanya. (wan/ttg/JPG/r3)
Editor : Redaksi Lombok Post Online