LombokPost – Abdurrahman “Gus Dur” Wahid adalah monumen persaudaraan lintas iman.
Karena itu, hampir 17 tahun setelah kepergian Presiden Indonesia ke-4 itu, doa-doa tak henti dimunajatkan oleh khalayak dari berbagai keyakinan.
Selasa (19/5), seperti dilaporkan Radar Jombang Grup Jawa Pos, puluhan bhante dan biksu dari sejumlah negara Asia Tenggara berdoa bersama dan tabur bunga di makam Gus Dur di kompleks Pondok Pesantren Tebuireng, Kecamatan Diwek, Jombang, Jawa Timur.
Baca Juga: Haul Gus Dur Sentil Konflik Internal Elite PBNU
Rombongan yang tergabung dalam Indonesia Walk for Peace 2026 itu tiba di Tebuireng sekitar pukul 10.00 WIB setelah menempuh perjalanan kaki dari Bali menuju Candi Borobudur, Magelang, Jawa Tengah.
Kedatangan mereka disambut hangat pengurus pesantren. Setelah beristirahat sejenak, para bhante menuju kompleks pemakaman keluarga besar Tebuireng untuk memanjatkan doa di pusara Gus Dur.
Di saat bersamaan, peziarah muslim melantunkan tahlil di area makam. Perwakilan keluarga besar Tebuireng, Riza Yusuf Hasyim (Gus Riza), turut mendampingi rombongan.
Baca Juga: Kemensos Ajukan Soeharto dan Gus Dur Jadi Pahlawan Nasional, PBNU Beri Dukungan
Seusai doa bersama, para bhante dan biksu melakukan tabur bunga di pusara Gus Dur serta makam sejumlah tokoh yang dimakamkan di kompleks yang sama. Di antaranya KH Hasyim Asy’ari, KH Wahid Hasyim, KH Yusuf Hasyim, hingga KH Salahuddin Wahid.
Bhante Tejapunnyo ketua rombongan menjelaskan, perjalanan damai tersebut diikuti 57 bhante dan biksu dari Thailand, Malaysia, Laos, dan Indonesia.
Perjalanan dimulai dari Brahmavihara Arama, Buleleng, Bali, pada 9 Mei dan dijadwalkan berakhir di Candi Borobudur pada puncak peringatan Hari Tri Suci Waisak pada 31 Mei mendatang.
Baca Juga: Apa Kata Mahfud MD di Haul Ke-14 Gus Dur di Tebuireng?
”Hari ini kami melakukan doa bersama di makam Gus Dur. Tidak ada kalimat terbaik selain doa,” ujar Bhante Tejapunnyo.
Menurut dia, Gus Dur tokoh yang sangat dihormati umat Buddha karena berjasa besar menjaga pluralisme dan toleransi di Indonesia.
“Beliau guru bangsa. Jasa-jasa beliau dalam menjaga keberagaman selalu kami ingat,” katanya. (ang/naz/ttg/JPG/r3)
Editor : Redaksi Lombok Post Online