Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Sudah Masuk El Nino tapi Hujan Masih Lebat, Puncaknya September-November

Redaksi • Jumat, 22 Mei 2026 | 10:51 WIB
Andri Ramdani (BMKG)
Andri Ramdani (BMKG)

LombokPost - Berdasarkan data iklim global, Indonesia kini sudah menapak masuk ke dalam fase kondisi El Nino.

Namun, alih-alih dihadapkan pada kemarau kering kerontang seketika, ancaman badai dan hujan ekstrem ternyata masih terus mengintai.

Direktur Meteorologi Publik BMKG Andri Ramdani mengatakan, pemanasan permukaan bumi yang intensif akibat minimnya tutupan awan pada pagi hingga siang hari telah mendongkrak suhu ke titik ekstrem.

Baca Juga: Waspada! Cuaca Ekstrem Intai NTB hingga 30 April, BMKG Ungkap Wilayah Paling Terdampak

"Pada periode 14-17 Mei 2026, suhu maksimum di atas 35,0°C hingga 36,0°C teramati di sejumlah wilayah, membentang dari Sumatra Utara, Jawa, Kalimantan, hingga Papua Barat," jelas Andri, Kamis (21/5).

Namun, dalam ilmu meteorologi, panas terik bisa jadi bahan bakar.

Suhu yang mendidih ini menguapkan air dalam jumlah besar, yang pada gilirannya mendukung proses pembentukan awan konvektif secara masif pada sore hingga malam hari.

Baca Juga: BMKG : Kemarau 2026 Paling Kering dalam 30 Tahun Terakhir

"Hasilnya, hujan dengan intensitas lebat hingga ekstrem yang sporadis membasahi berbagai daerah," paparnya.

Di atas kertas, lanjutnya, indikator global sudah memastikan kehadiran El Nino. Indeks Southern Oscillation Index (SOI) telah terjun ke angka -7,4, diiringi indeks NINO 3.4 yang merangkak naik ke level +0,52.

Lantas, mengapa hujan lebat enggan pergi? Jawabannya terletak pada "bala bantuan" cuaca yang tengah mengepung atmosfer Indonesia.

Baca Juga: BMKG Resmi Akhiri Peringatan Dini Tsunami Gempa Magnitudo 7,6 Maluku Utara, Warga Pesisir Diminta Tetap Waspada!

Meskipun El Nino mencoba mengeringkan uap air, serangkaian dinamika atmosfer justru aktif memompa awan hujan.

Kondisi Kering

Pada periode 22–25 Mei 2026, siaga hujan sedang masih mengepung wilayah Sumatra, se-perti Aceh, Riau, Jambi, Sumsel, Bengkulu, dan Lampung. Untuk Jawa meliputi Jabar, Jateng, dan Jatim.

Terpisah, peneliti atmosfer BRIN Prof. Erma Yulihastin mengatakan, dampak El Nino bakal dirasakan mulai Juni sampai Agustus. Puncaknya pada September sampai November berupa kondisi yang sangat kering.

"Bagaimana setelah November, masih terlalu jauh. BMKG pasti akan melaporkan prakiraan cuaca, termasuk kondisi curah hujan, untuk periode 19 harian," katanya. (idr/wan/ttg/JPG/r3)

Editor : Redaksi Lombok Post Online
#iklim #bmkg #global #el nino #Hujan