LombokPost - Dinamika ekonomi global yang penuh tantangan serta pesatnya arus transformasi digital tidak menutup kemungkinan bakal mengguncang kondisi finansial masyarakat, tidak terkecuali generasi muda.
Merespons situasi tersebut, Bank Indonesia (BI) bergerak cepat memperkuat sinergi bersama Kementerian Keuangan, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) untuk membekali generasi muda dengan literasi keuangan yang kuat.
Dalam forum Literasi Keuangan Indonesia Terdepan (LIKE IT) 2026, Deputi Gubernur Bank Indonesia, Aida S. Budiman, menegaskan bahwa melek finansial hari ini bukan lagi sekadar memahami produk keuangan atau investasi di atas kertas. Lebih dari itu, ini adalah tentang bagaimana membangun kemampuan mengambil keputusan finansial yang bijak dan berkelanjutan.
Baca Juga: Bank Indonesia Dan TNI AL Gelar ERB 2026, Bawa Rp 8,34 Miliar untuk Pulau 3T di NTB
"Harus cerdas, cermat, dan cuan dalam memilih portofolio investasi!" imbau Aida di hadapan para tokoh penting yang hadir, termasuk Menteri Keuangan, Ketua Dewan Komisioner OJK, Ketua Dewan Komisioner LPS, sejumlah pimpinan daerah, serta rektor perguruan tinggi.
Strategi Dua Arah Bank Indonesia Guna memastikan stabilitas sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif, Bank Indonesia menerapkan strategi dari dua arah sekaligus dalam mendongkrak literasi dan inklusi keuangan nasional:
Pengembangan Instrumen Pasar Uang: Memperluas pilihan investasi bagi masyarakat dan korporasi.
Baca Juga: Pukau Pengunjung KK NTB 2026, Bank Indonesia Hadirkan Keindahan 7 Tarian Uang Kertas Rupiah di LEM
Langkah ini diambil agar para investor tertarik menanam modal di dalam negeri dan masyarakat tetap bangga memegang aset dalam mata uang Rupiah.
Inovasi Sistem Pembayaran Digital: Mengakselerasi pemanfaatan teknologi, salah satunya lewat instrumen QRIS.
Inovasi ini dirancang agar transaksi serta akses ke produk keuangan maupun investasi menjadi semakin cepat, mudah, murah, aman, dan andal bagi publik.
Baca Juga: Bank Indonesia NTB Gandeng Rene Suhardono Bedah "Rumus Anti Nganggur" di World Book Day
Ledakan Pengguna QRIS dan Cetak Talenta Digital Komitmen BI dalam memperluas ekosistem sistem pembayaran digital terbukti membuahkan hasil yang masif di lapangan.
Pemanfaatan QRIS terus meroket tajam dan menyentuh sektor-sektor produktif.
Rapor Digitalisasi dan Inklusi Keuangan (Hingga April 2026).
Jumlah Pengguna QRIS: Menembus angka 63 juta pengguna.
Jumlah Merchant QRIS: Lebih dari 45 juta merchant, di mana mayoritas pelakunya merupakan UMKM.
Selain memperluas adopsi QRIS, bank sentral aktif menggodok talenta digital masa depan lewat program inovasi seperti Pusat Inovasi Digital Indonesia (PIDI) dan Digdaya x Hackathon.
Program-program ini disiapkan agar generasi muda tumbuh menjadi pribadi yang inovatif, adaptif, dan siap menghadapi transformasi ekonomi digital yang serbacepat.
Proteksi Konsumen Lewat Gerakan PeKA Sadar bahwa ruang digital juga menyimpan potensi bahaya, Bank Indonesia tidak melupakan aspek keamanan.
BI secara agresif menjalankan program pelindungan konsumen yang diberi nama PeKA (Peduli, Kenali, dan Adukan). Program edukasi ini bertujuan mempertebal tingkat kewaspadaan (awareness) masyarakat terhadap berbagai risiko fraud serta kejahatan siber yang marak di era digital.
Melalui payung kolaborasi LIKE IT 2026, sinergi lintas institusi ini diharapkan dapat memperluas basis investor domestik, menjaga stabilitas sistem keuangan nasional, dan mewujudkan pertumbuhan ekonomi Indonesia yang inklusif, kuat, serta berkelanjutan.
Menumbuhkan mentalitas "Cerdas, Cermat, Cuan" memang sangat krusial bagi masa depan finansial anak muda saat ini.
Editor : Redaksi Lombok Post Online