Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Dolar AS di Level Rp 18.134 Kian Melemah, Ujian Berat Koordinasi Moneter-Fiskal

Nurul Hidayati • Senin, 8 Juni 2026 | 11:51 WIB
Karyawan menunjukkan uang pecahan rupiah dan dolar Amerika Serikat (AS) di gerai penukaran mata uang asing di Jakarta. (JawaPos)
Karyawan menunjukkan uang pecahan rupiah dan dolar Amerika Serikat (AS) di gerai penukaran mata uang asing di Jakarta. (JawaPos)

LombokPost - Tekanan terhadap mata uang Garuda belum menunjukkan tanda-tanda mereda. Membuka awal pekan, nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) terhadap rupiah kembali menunjukkan lonjakan signifikan.

Berdasarkan data Google Finance pada Senin (8/6) pukul 09.12 WIB, kurs greenback sudah nangkring di level Rp 18.134,15 per dolar AS.

Lonjakan ini menandai berlanjutnya tren negatif bagi rupiah. Setelah sempat bertahan di kisaran psikologis Rp 18.000 per dolar AS dalam beberapa waktu terakhir, pertahanan rupiah akhirnya jebol juga.

Baca Juga: Bank Indonesia Edukasi CBP Rupiah PKL hingga Pedagang Pasar  

Menyikapi situasi krusial ini, Bank Indonesia (BI) bersama Kementerian Keuangan (Kemenkeu) berjanji akan lebih merapatkan barisan. Kedua otoritas penentu kebijakan moneter dan fiskal tersebut sepakat memperketat koordinasi demi menjaga stabilitas nilai tukar agar tidak merembet ke sektor riil.

Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, membeberkan ada dua strategi utama yang kini ditempuh bersama Kemenkeu. Langkah pertama berfokus pada penguatan daya tarik investasi portofolio. Hal ini dirasa mendesak agar aliran modal asing (capital inflow) bisa kembali membanjiri pasar keuangan domestik.

Perry tak menampik, tren kenaikan suku bunga acuan di sejumlah negara barat telah memicu penarikan modal asing (capital outflow) secara masif dari pasar saham maupun Surat Berharga Negara (SBN) Indonesia. Atas dasar itulah, pemerintah dan BI kini meluncurkan formula untuk menaikkan imbal hasil (yield) investasi agar kembali seksi di mata investor global.

Baca Juga: Riset Baru ISPOR Europe: Intervensi PKMK Terbukti Klinis Turunkan Stunting 34,5 Persen, Hemat Biaya Pengobatan hingga Triliunan Rupiah!

"Yang pertama adalah meningkatkan daya tarik atau imbal hasil supaya portfolio inflow kembali masuk. Dengan kenaikan bunga luar negeri memang itu ada outflow, ada saham dan SBN dan juga kecil di SRP," ucapnya dalam pertemuan dengan DPR, Menkeu, dan Mensesneg di Gedung DPR, Jakarta, Sabtu (6/6).

"Oleh karena itu, fiskal dan moneter sepakat untuk sama-sama meningkatkan daya tarik imbal hasil supaya inflow ini kembali masuk besar dan mendukung stabilitas nilai tukar rupiah," sambung Perry.

Sementara untuk langkah kedua, BI bersama pemerintah bakal menjaga ketat kecukupan likuiditas di pasar uang dan sektor perbankan nasional. Strategi ini dieksekusi melalui manajemen pengelolaan kas pemerintah yang tetap ditempatkan di Bank Indonesia.

Baca Juga: Menkeu Tegaskan Kondisi Fiskal Masih Terjaga: Rupiah Anjlok Lagi, BI Sebut Akibat Tensi Timteng-Permintaan Dolar

"Nomor dua adalah sama-sama menjaga kecukupan likuiditas di pasar uang dan perbankan dengan cara pengelolaan kas pemerintah tetap di BI. Tapi tentu saja ada peningkatan remunerasi atau bunga yang dibayarkan BI kepada pemerintah," urai Perry.

Ia optimistis, skema penempatan kas negara ini bakal menjadi instrumen efektif untuk mengunci stabilitas pergerakan nilai tukar ke depan. "Dengan demikian, operasi moneter itu tetap berjalan untuk mendukung stabilitas tukar rupiah. Sementara operasi fiskalnya juga mendukung," kuncinya.

Editor : Redaksi Lombok Post Online
#dolar as #kurs rupiah #stabilitas ekonomi #Bank Indonesia #kebijakan moneter