Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Pasar Modal Dihantam Sentimen Negatif, IHSG Langsung Jatuh Bersamaan

Nurul Hidayati • Senin, 8 Juni 2026 | 11:57 WIB
Karyawan berada di depan layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Kamis (4/6/2026). (Jawa Pos)
Karyawan berada di depan layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Kamis (4/6/2026). (Jawa Pos)

LombokPost - Pasar modal Indonesia langsung dihantam gelombang tekanan besar pada pembukaan perdagangan awal pekan. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Senin (8/6), bergerak merosot tajam akibat kombinasi sentimen negatif yang datang bertubi-tubi, baik dari dalam negeri maupun eskalasi geopolitik dan ekonomi global.

IHSG langsung dibuka anjlok 108,46 poin atau 1,94 persen ke posisi 5.486,31. Tekanan jual yang masif membuat indeks kian terpuruk hingga amblas 222,29 poin atau 3,99 persen ke posisi 5.371,78 pada pukul 09.15 WIB.

“Kiwoom Research masih menyarankan untuk kembali perbanyak wait and see sebelum ambil posisi beli/ average down,” ujar Head of Research Kiwoom Sekuritas, Liza Camelia Suryanata dalam kajiannya di Jakarta, Senin (8/6).

Baca Juga: Wall Street Tertekan Bakal Bayangi IHSG

The Fed Berpotensi Kian Hawkish

Dari panggung mancanegara, perhatian pelaku pasar kini bergeser drastis. Harapan akan adanya pemangkasan suku bunga acuan sirna, berganti dengan kecemasan risiko kenaikan suku bunga tambahan oleh bank sentral Amerika Serikat (AS), The Fed.

Data CME FedWatch bahkan menunjukkan pasar kini sepenuhnya memperkirakan satu kali kenaikan suku bunga sebesar 25 bps sebelum akhir tahun.

Baca Juga: Rupiah Melemah Beri Tekanan IHSG

Pemicunya adalah data ketenagakerjaan AS sektor Nonfarm Payrolls (NFP) edisi Mei 2026 yang tumbuh meroket hingga 172.000 pekerjaan jauh melampaui ekspektasi pasar yang hanya mematok 85.000.

Sementara itu, tingkat pengangguran AS bertahan di angka 4,3 persen.

Di bursa saham, data ekonomi yang terlalu kuat justru menjadi kabar buruk karena memperbesar peluang inflasi bertahan lebih lama.

Baca Juga: Wall Street Melemah, IHSG Diprediksi Tertekan, Bank Sentral AS dan UE Diproyeksikan Kerek Suku Bunga

“Sehingga, membuat Chairman The Fed Kevin Warsh berpotensi mengambil sikap yang lebih hawkish dibanding ekspektasi pasar saat ini,” jelas Liza.

Tensi Geopolitik Timur Tengah dan Asia Timur

Fokus investor pekan ini juga tersedot pada ketegangan di Timur Tengah, khususnya respons Israel pasca-serangan rudal Iran ke pangkalan udara Ramat David akhir pekan lalu. “Perkembangan terkait Selat Hormuz akan menjadi faktor penentu arah harga minyak, inflasi global, dan ekspektasi suku bunga,” tambah Liza.

Di belahan dunia lain, aspek geopolitik Asia Timur turut memanas seiring agenda Presiden China Xi Jinping yang melakukan kunjungan kenegaraan ke Korea Utara pada 8-9 Juni 2026 atas undangan Kim Jong Un. Kunjungan langka ini dibaca analis sebagai manuver Beijing untuk mengunci pengaruh strategisnya di Pyongyang sekaligus mengantisipasi pergeseran peta kekuatan di Asia Timur.

Kabar Positif dari Sektor Olahraga Dunia

Di tengah buramnya pasar finansial, angin segar diharapkan datang dari pembukaan Piala Dunia FIFA 2026 pada 11 Juni mendatang. Turnamen akbar di Amerika Utara ini diproyeksikan bakal mendongkrak performa emiten di sektor perhotelan, transportasi, restoran, media, hingga industri taruhan olahraga. Deutsche Bank memprediksi total nilai taruhan olahraga selama kompetisi mampu menembus angka 3,3 miliar hingga 4,1 dolar AS dalam skenario optimistis.

Dari dalam negeri, langkah penyelamatan pasar terus diupayakan. Melalui konferensi pers Sabtu (6/6), Bank Indonesia (BI) bersama pemerintah menegaskan fokus untuk mengerek daya tarik aset keuangan domestik. Strateginya adalah menawarkan imbal hasil (yield) yang lebih kompetitif pada instrumen SBN dan SRBI demi memicu kembalinya dana asing, seraya menjaga likuiditas perbankan nasional lewat pengelolaan kas negara di BI.

Sentimen merah pagi ini sejatinya mengekor kejatuhan bursa global akhir pekan lalu. Di Wall Street, indeks Dow Jones terpangkas 1,35 persen, S&P 500 anjlok 2,64 persen, dan Nasdaq ambruk hingga 4,77 persen. Kondisi serupa menular ke bursa regional Asia pagi ini, di mana indeks Nikkei Jepang langsung rontok 3,94 persen, Shanghai melempem 1,00 persen, dan Hang Seng terpangkas 1,26 persen.

Editor : Redaksi Lombok Post Online
#Suku Bunga Fed #Analisis Saham #geopolitik global #ihsg anjlok #bursa efek indonesia