Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

2 Calon Pengelola KDMP Meninggal Saat Pelatihan, Publik Pertanyakan Materi Bernuansa Militer

Kimda Farida • Rabu, 24 Juni 2026 | 14:04 WIB
ilustrasi. (WAHYU/LOMBOK POST)
ilustrasi. (WAHYU/LOMBOK POST)

 

LombokPost--Dua peserta program pelatihan calon pengelola Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) dan Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP) dilaporkan meninggal dunia saat mengikuti pendidikan dan latihan yang diselenggarakan dengan pendekatan kemiliteran. 

Insiden ini memicu perhatian luas sekaligus menimbulkan pertanyaan publik mengenai tujuan dan relevansi materi pelatihan yang diberikan kepada calon pengelola koperasi.

Sorotan masyarakat tidak hanya tertuju pada peristiwa meninggalnya peserta, tetapi juga pada sejumlah materi pelatihan yang beredar di media sosial, termasuk penggunaan senjata laras panjang dan latihan fisik intensif.

Banyak pihak mempertanyakan keterkaitan materi tersebut dengan tugas utama peserta yang nantinya bertanggung jawab mengelola koperasi dan memperkuat ekonomi masyarakat desa.

Kementerian Pertahanan (Kemhan) menyatakan kedua peserta yang meninggal dunia sebelumnya telah menjalani pemeriksaan kesehatan dan dinyatakan memenuhi syarat untuk mengikuti program pelatihan. Penjelasan tersebut disampaikan sebagai respons atas berbagai pertanyaan yang muncul dari masyarakat dan keluarga korban.

Berdasarkan investigasi awal yang dilakukan Kemhan, peserta pertama diduga meninggal akibat heat stroke atau sengatan panas saat mengikuti aktivitas pelatihan.

Sementara peserta kedua diduga mengalami cardiac arrest atau henti jantung mendadak ketika menjalani rangkaian latihan fisik.

Kemhan menjelaskan bahwa kondisi medis yang bersifat akut dan terjadi secara tiba-tiba tersebut tidak selalu dapat terdeteksi melalui pemeriksaan kesehatan rutin sebelum pelatihan.

Baca Juga: Serangan Udara Militer Myanmar Tewaskan 702 Warga Sipil

Faktor cuaca, intensitas aktivitas fisik, serta kemungkinan kondisi kesehatan tertentu disebut menjadi bagian yang masih didalami dalam proses investigasi.

Di sisi lain, keluarga korban meminta adanya evaluasi menyeluruh terhadap sistem keselamatan yang diterapkan selama pelatihan berlangsung. Mereka mempertanyakan efektivitas pengawasan kesehatan peserta, kesiapan tim medis, hingga mekanisme penanganan keadaan darurat di lapangan.

Sejumlah organisasi masyarakat sipil juga mendorong transparansi dalam proses investigasi. Mereka meminta pemerintah membuka hasil evaluasi secara terbuka sekaligus meninjau kembali standar pelatihan yang diterapkan kepada peserta yang berasal dari sektor ekonomi dan pemberdayaan masyarakat.

Menanggapi berbagai masukan tersebut, Kemhan menyatakan akan melakukan evaluasi komprehensif terhadap seluruh aspek pelatihan.

Evaluasi mencakup pemeriksaan kesehatan peserta, pengaturan jadwal latihan, standar pemberian cairan dan nutrisi, hingga peningkatan kesiapsiagaan tim medis selama kegiatan berlangsung.

Baca Juga: Menjaga "Hutan" Gili Air: (Konservasi Bukan Sekadar Menanam Karang, Melainkan Merawat Fondasi Kehidupan Samudra)

Meski program pelatihan akan tetap dilanjutkan, pemerintah berjanji memperkuat aspek keselamatan peserta agar kejadian serupa tidak terulang. 

Tragedi ini sekaligus menjadi momentum untuk meninjau kembali keseimbangan antara tujuan pembentukan disiplin peserta dan kebutuhan kompetensi yang benar-benar relevan bagi pengelolaan koperasi desa serta kampung nelayan di masa depan.

Editor : Kimda Farida
#Pelatihan Militer #Koperasi Desa Merah Putih #Kampung Nelayan Merah Putih #kemhan #kementerian pertahanan