Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Bali Belum Peak Season, Kemacetan Ketapang Sudah 7,7 Km: Disiasati dengan Skema Tiba Bongkar Berangkat

Redaksi • Kamis, 25 Juni 2026 | 11:29 WIB
MENGULAR: Antrean kendaraan pengangkut logistik masih memadati jalan raya depan depo Pertamina, Ketapang, Banyuwangi, Rabu (24/6). Panjang antrean kendaraan mencapai 7,7 kilometer. (Jawa Pos)
MENGULAR: Antrean kendaraan pengangkut logistik masih memadati jalan raya depan depo Pertamina, Ketapang, Banyuwangi, Rabu (24/6). Panjang antrean kendaraan mencapai 7,7 kilometer. (Jawa Pos)

LombokPost - Peak season penumpang yang akan menyeberang ke Bali dari Banyuwangi, Jawa Timur, masih akan terjadi pada 29 Juni hingga 13 Juli nanti.

Namun, kemacetan panjang menuju Pelabuhan Ketapang sudah terjadi dalam beberapa hari terakhir.

Padahal, saat musim puncaknya nanti, potensi penambahan kendaraan masih bisa terus terjadi.

Baca Juga: Hadang Lalu Lintas Minyak Dimana Iran Pasang Ranjau Laut di Selat Hormuz, Iran juga Siap Serang Balik Bank dan Perusahaan Terafiliasi dengan AS-Israel

“Kami juga mengantisipasi kedatangan bus pariwisata dan travel yang berdatangan. Peningkatan volume kami prediksi masih terus terjadi,” kata General Manager ASDP Ketapang Arief Eko Kurniansjah kepada Radar Banyuwangi Grup Jawa Pos Rabu (24/6).

Antrean kendaraan yang didominasi logistik mengular sepanjang 7,7 kilometer dari Pelabuhan ASDP Ketapang. Kondisi itu diperparah oleh cuaca ekstrem yang sempat melanda perairan Selat Bali.

Hingga sore hari, antrean kendaraan masih mengular hingga sekitar Grand Watu Dodol (GWD). Mayoritas masih didominasi truk-truk berukuran besar.

Baca Juga: Gapasdap: Prediksi BMKG soal Gempa Megathrust Selatan Bali Dikhawatirkan Bisa Guncang Stabilitas Ekonomi Bali dan Lombok

Pengawas Keselamatan dan Keamanan Pelayaran Balai Pengelola Transportasi Darat (BPTD) Satuan Pelayanan (Satpel) Pelabuhan Ketapang Rahut Sianturi mengatakan, akibat arus bawah laut yang kencang, sejumlah kapal di Pelabuhan LCM tidak bisa sandar.

“Beberapa kapal tidak bisa bersandar di Pelabuhan LCM karena arus bawah laut,” kata Rahut.

Dia menambahkan, volume kendaraan yang melintas melalui Pelabuhan ASDP Ketapang kemarin masih terbilang tinggi.

Baca Juga: KMP Tunu Pratama Jaya Tenggelam di Selat Bali, 61 Hilang! Prabowo Langsung Perintahkan Basarnas Bertindak

“Intensitas kendaraan di dalam area pelabuhan juga telah terisi sekitar 90 persen,” imbuhnya.

Percepat Penyeberangan

Sejumlah cara dilakukan pemangku kepentingan pelabuhan. Salah satunya dengan menerapkan skema Tiba Bongkar Berangkat (TBB) untuk mempercepat arus penyeberangan di Pelabuhan Ketapang.

Hingga pukul 16.25 kemarin, sistem tersebut masih diberlakukan di tiga titik, yaitu Dermaga IV, Dermaga LCM, dan Dermaga Bulusan. “Penerapan TBB kami berlakukan secara penuh pada dua kapal. Ada juga yang kami berlakukan secara selang-seling,” imbuhnya.

Meski kondisi cukup padat, sementara ini baru 29 kapal yang dioperasikan pada lintasan Ketapang–Gilimanuk dengan pola delapan trip. “Kondisi cuaca ini semakin memperparah kepadatan karena kami tidak bisa menaikkan kendaraan,” imbuhnya. (fre/aif/JPG/r3)

Editor : Redaksi Lombok Post Online
#logistik #ketapang #kendaraan #asdp #pelabuhan