LombokPost - Peak season penumpang yang akan menyeberang ke Bali dari Banyuwangi, Jawa Timur, masih akan terjadi pada 29 Juni hingga 13 Juli nanti.
Namun, kemacetan panjang menuju Pelabuhan Ketapang sudah terjadi dalam beberapa hari terakhir.
Padahal, saat musim puncaknya nanti, potensi penambahan kendaraan masih bisa terus terjadi.
“Kami juga mengantisipasi kedatangan bus pariwisata dan travel yang berdatangan. Peningkatan volume kami prediksi masih terus terjadi,” kata General Manager ASDP Ketapang Arief Eko Kurniansjah kepada Radar Banyuwangi Grup Jawa Pos Rabu (24/6).
Antrean kendaraan yang didominasi logistik mengular sepanjang 7,7 kilometer dari Pelabuhan ASDP Ketapang. Kondisi itu diperparah oleh cuaca ekstrem yang sempat melanda perairan Selat Bali.
Hingga sore hari, antrean kendaraan masih mengular hingga sekitar Grand Watu Dodol (GWD). Mayoritas masih didominasi truk-truk berukuran besar.
Pengawas Keselamatan dan Keamanan Pelayaran Balai Pengelola Transportasi Darat (BPTD) Satuan Pelayanan (Satpel) Pelabuhan Ketapang Rahut Sianturi mengatakan, akibat arus bawah laut yang kencang, sejumlah kapal di Pelabuhan LCM tidak bisa sandar.
“Beberapa kapal tidak bisa bersandar di Pelabuhan LCM karena arus bawah laut,” kata Rahut.
Dia menambahkan, volume kendaraan yang melintas melalui Pelabuhan ASDP Ketapang kemarin masih terbilang tinggi.
“Intensitas kendaraan di dalam area pelabuhan juga telah terisi sekitar 90 persen,” imbuhnya.
Percepat Penyeberangan
Sejumlah cara dilakukan pemangku kepentingan pelabuhan. Salah satunya dengan menerapkan skema Tiba Bongkar Berangkat (TBB) untuk mempercepat arus penyeberangan di Pelabuhan Ketapang.
Hingga pukul 16.25 kemarin, sistem tersebut masih diberlakukan di tiga titik, yaitu Dermaga IV, Dermaga LCM, dan Dermaga Bulusan. “Penerapan TBB kami berlakukan secara penuh pada dua kapal. Ada juga yang kami berlakukan secara selang-seling,” imbuhnya.
Meski kondisi cukup padat, sementara ini baru 29 kapal yang dioperasikan pada lintasan Ketapang–Gilimanuk dengan pola delapan trip. “Kondisi cuaca ini semakin memperparah kepadatan karena kami tidak bisa menaikkan kendaraan,” imbuhnya. (fre/aif/JPG/r3)
Editor : Redaksi Lombok Post Online