LombokPost - Kasus peredaran narkotika di Kabupaten Katingan, Kalimantan Tengah, yang menewaskan tiga anggota kepolisian setempat menjadi atensi serius Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas).
Tim Kompolnas turun langsung ke lapangan untuk meninjau perkembangan situasi dan melakukan koordinasi dengan jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Senin (6/7).
Pertemuan dengan Forkopimda Katingan yang berlangsung di Markas Polres Katingan tersebut dihadiri Kapolres AKBP Dodik Hartono, Bupati Saiful, Dandim 1019 Letkol Kav Prima Wahyudi, serta sejumlah pejabat terkait lainnya. Perwakilan Kompolnas M. Choirul Anam menyatakan, bahwa kunjungan itu bertujuan mengumpulkan fakta otentik terkait insiden penggerebekan di Desa Kalemei, Kecamatan Katingan Tengah, yang berujung pada meninggalnya tiga anggota Satresnarkoba Polres Katingan dan seorang warga sipil.
Baca Juga: 24 Anggota Dewan Absen Tes Narkoba, Deteksi Dini Penyalahgunaan Narkotika di DPRD NTB
"Kami sangat prihatin dan berduka cita yang mendalam atas gugurnya tiga anggota Polri dalam tugas ini. Namun, peristiwa ini harus menjadi momentum dan spirit bagi kita semua bahwa pemberantasan narkoba tidak boleh berhenti," ujar Choirul kepada awak media, seperti dilansir Kalteng Pos (Grup Jawa Pos).
Ketiga polisi yang meninggal dalam penggerebekan bandar narkoba di Desa Kalemei, Kecamatan Katingan Tengah, Kabupaten Katingan, Kamis (2/7) pekan lalu itu adalah Ipda Anumerta Sumariyanto, Briptu Anumerta Nopandri Ramadhana, dan Aiptu Anumerta Yudhie Perdana Putra.
Razia tersebut berujung maut setelah keluarga dan tetangga BIO, target operasi, melakukan perlawanan dengan parang dan senapan rakitan setelah Teriyo yang berusaha menyerang Kasatresnarkoba AKP Affan Efendi Batu Bara tewas tertembak.
Choirul Anam menambahkan, pemberantasan jaringan narkoba harus dilakukan secara komprehensif dengan melibatkan seluruh lini kelembagaan di daerah sesuai fungsi masing-masing.
"Gembong-gembong narkoba ini harus ditindak dengan penegakan hukum yang maksimal. Kita tidak boleh kalah dengan jaringan narkoba di mana pun mereka berada, termasuk di Katingan," katanya.
Kapolres Katingan AKBP Dodik Hartono menegaskan kalau jajarannya tetap solid dan berkomitmen penuh mengusut tuntas kasus ini hingga ke akar-akarnya.
Baca Juga: WNA Prancis Dibekuk Polisi karena Peredaran Narkotika
Hingga saat ini, mereka telah berhasil mengamankan tiga orang yang diduga kuat terlibat dalam insiden berdarah di Desa Kalemei.
“Tiga orang terduga pelaku berinisial S, N, dan R sudah berhasil kami amankan. Terkait detail perkembangan penanganan kasus, mohon maaf belum bisa kami buka seluruhnya ke publik demi menjaga kelancaran proses penyelidikan dan pengejaran di lapangan," katanya.
Bupati Saiful juga menyatakan komitmen penuh pemerintah daerah untuk bersinergi dengan aparat penegak hukum dalam memerangi peredaran narkotika.
Saiful juga memberikan peringatan keras kepada seluruh Aparatur Sipil Negara (ASN) di lingkungan Pemkab Katingan, mulai dari tingkat desa, kecamatan, hingga kabupaten, agar tidak terlibat dalam jaringan barang haram tersebut.
"Kami pastikan akan mengambil tindakan tegas sesuai regulasi yang berlaku jika ada ASN yang terlibat, baik sebagai pengguna maupun pengedar. ASN harus menjadi contoh dan berada di garda terdepan dalam memerangi narkoba," kata Saiful.
Upacara Pemakaman
Sementara itu, Polda Kalteng menggelar upacara pemakaman kedinasan bagi Ipda Anumerta Sumariyanto di Tempat Pemakaman Umum Muslim Kasongan, ibu kota Kabupaten Katingan. Upacara pada Ahad (5/7) malam tersebut dihadiri langsung Kapolda Kalteng Irjen Pol Iwan Kurniawan bersama para petinggi Polda Kalteng lainnya.
Bersama Nopandri, Sumariyanto termasuk yang dilaporkan hilang setelah razia. Yudhie, Sumariyanto, dan Nopandri sempat berusaha menyelamatkan diri dengan menceburkan diri ke Sungai Katingan.
Hal itu dilakukan saat massa terus menembaki pulau kecil di tengah sungai, tempat mereka bersembunyi setelah mundur dari lokasi karena kalah jumlah dengan massa penyerang. Namun, karena kelelahan, mereka kembali ke tepian sungai tempat massa penyerang berkumpul.
Dalam prosesi pemakaman tersebut, Iwan menyerahkan secara simbolis penghargaan Kenaikan Pangkat Luar Biasa Anumerta dari Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo. Pangkat almarhum dinaikkan satu tingkat lebih tinggi, dari Ajun Inspektur Polisi Satu (Aiptu) menjadi Inspektur Polisi Dua (Ipda) Anumerta.
"Penghargaan ini merupakan bentuk apresiasi dan penghormatan tertinggi dari negara atas dedikasi, keberanian, serta pengorbanan almarhum yang gugur dalam menjalankan tugas memberantas peredaran gelap narkotika," ujar Iwan. (eri/ttg/JPG/r3)