Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Cadangan Devisa Kembali Terkoreksi, Pemerintah Mulai Perluas Sumber Pembiayaan

Redaksi • Kamis, 9 Juli 2026 | 14:44 WIB
Menteri Keuangan RI Purbaya Yudhi Sadewa (AFP)
Menteri Keuangan RI Purbaya Yudhi Sadewa (AFP)

LombokPost - Cadangan devisa Indonesia kembali terkoreksi pada Mei 2026. Meski turun USD 1,3 miliar menjadi USD 144,9 miliar, Bank Indonesia (BI) menegaskan posisi tersebut masih sangat memadai untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan ketahanan sektor eksternal di tengah tingginya volatilitas pasar keuangan global.

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso menjelaskan, penurunan cadangan devisa dipengaruhi sejumlah faktor.

Antara lain pembayaran utang luar negeri pemerintah, kebutuhan stabilisasi nilai tukar rupiah, serta meningkatnya permintaan valuta asing (valas) musiman dari pelaku domestik.

Baca Juga: Menkeu Purbaya Buka Peluang Anggaran MBG Dipangkas Lagi, Bisa di Bawah Rp 270 Triliun

Di sisi lain, penerbitan global bond pemerintah serta penerimaan pajak dan jasa turut memberikan kontribusi terhadap dinamika cadangan devisa selama Mei.

 ”Secara keseluruhan, posisi cadangan devisa pada akhir Mei 2026 tetap kuat,” ujarnya Rabu (8/6).

Ke depan, bank sentral optimistis ketahanan eksternal Indonesia tetap terjaga. Selain didukung cadangan devisa yang memadai, prospek aliran modal asing dinilai masih terbuka seiring persepsi positif investor terhadap perekonomian nasional dan tingkat imbal hasil investasi yang tetap kompetitif.

Baca Juga: Redam Tekanan Global: Menkeu Purbaya Optimis Rupiah Menguat di Semester II 2026, Bidik Pertumbuhan Ekonomi 6,5 Persen pada 2027!

”Bank Indonesia terus meningkatkan sinergi dengan pemerintah dalam memperkuat ketahanan eksternal guna menjaga stabilitas perekonomian dan mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan,” paparnya.

Sementara itu, pemerintah terus menjaga stabilitas pasar surat utang negara di tengah tekanan terhadap rupiah dan ketidakpastian global. Hingga 5 Juni, pemerintah telah melakukan pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder senilai sekitar Rp 11 triliun.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan, langkah tersebut bertujuan menjaga pergerakan imbal hasil (yield) obligasi pemerintah agar tetap terkendali. ”Pembelian bond di pasar sekunder masih terus kami lakukan. Karena itu yield obligasi pemerintah relatif terkendali dan tidak terlalu terpengaruh oleh pergerakan rupiah maupun pasar saham,” katanya.

Baca Juga: Bisa Bikin Investor Kabur dan Rupiah Hancur, Ferry Irwandi Desak Menkeu Purbaya Stop Kosmetik Data

Purbaya menilai kondisi pasar obligasi domestik masih cukup solid. Yield SBN tenor 10 tahun yang menjadi acuan pasar juga dinilai bergerak relatif stabil meski sentimen global masih berfluktuasi.

Perluas Basis Investor

Selain menjaga stabilitas pasar domestik, pemerintah juga mulai memperluas sumber pembiayaan. Salah satunya melalui rencana penerbitan Panda Bond di Tiongkok. Purbaya mengungkapkan dirinya akan bertolak ke Tiongkok pekan depan untuk melakukan promosi kepada investor. Setelah itu, agenda serupa akan dilanjutkan ke Inggris guna bertemu investor Eropa.

”Setelah itu ke Inggris untuk investor meeting dan meyakinkan investor bahwa Indonesia menjalankan kebijakan ekonomi yang baik,” ujarnya.

Menurut dia, strategi utama pemerintah saat ini bukan sekadar mencari sumber pendanaan baru, melainkan memperluas basis investor sehingga ketergantungan terhadap satu pasar dapat dikurangi. ”Strateginya adalah diversifikasi. Selama investor yakin arah ekonomi Indonesia baik, tidak perlu strategi yang terlalu khusus,” tambahnya.

Risiko Kurs Banyak Ditanggung Pemerintah

Di sisi lain, pengamat ekonomi Universitas Paramadina Wijayanto Samirin menilai keberhasilan penerbitan Panda Bond tetap akan ditentukan oleh pertimbangan keuntungan dan risiko yang dihitung investor. ”Karena SBN rupiah semakin menghadapi tantangan akibat kekhawatiran investor terhadap risiko nilai tukar, pemerintah mencari alternatif lewat global bond sehingga risiko kurs lebih banyak ditanggung pemerintah,” ujarnya.

Posisi Cadangan Devisa Periode Januari-Mei 2026

-Januari                USD 154,6 miliar setara Rp 2.782,8 triliun

-Februari              USD 151,9 miliar setara Rp 2.734,2 triliun

-Maret                  USD 148,2 miliar setara Rp 2.667,6 triliun

-April                     USD 146,2 miliar setara Rp 2.631,6 triliun

-Mei                       USD 144,9 miliar setara Rp 2.608,2 triliun

Asumsi kurs: Rp18.000/USD

Sumber: Bank Indonesia (mim/dio/JPG/r3)

Editor : Redaksi Lombok Post Online
#modal asing #Investor #cadangan devisa indonesia #Bank Indonesia