LombokPost — Kabar mengejutkan datang dari otoritas moneter Indonesia. Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo, secara resmi mengundurkan diri dari jabatannya setelah memimpin bank sentral selama tujuh tahun sejak 24 Mei 2018.
Namun hingga kini dibalik alasan pengunduran dirinya belum terungkap. Pejabat Gubernur Sementara Destry Damayanti mengatakan pengunduran diri Perry Warjiyo dilakukan secara sukarela karena alasan pribadi pada 25 Juli 2026. Destry, tidak merinci lebih lanjut alasan pribadi yang disampaikan Perry.
Pengumuman resmi pengunduran diri Perry Warjiyo disampaikan oleh Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi di Jakarta, Senin pagi (27/7/2026).
Mensesneg Prasetyo Hadi mengungkapkan bahwa surat pengunduran diri Perry telah diterima dan disetujui langsung oleh Presiden Prabowo Subianto pada Minggu (26/7/2026).
Sesuai mekanisme dan undang-undang yang berlaku, terutama mengacu pada Undang-Undang Bank Indonesia.
"Per kemarin, secara resmi kami menerima surat pengunduran diri dari Gubernur BI kepada Bapak Presiden. Bapak Presiden menerima pengunduran diri dari Bapak Perry Warjiyo disertai ucapan terima kasih dan penghargaan setinggi-tingginya atas dedikasi beliau selama 7 tahun lamanya," ujar Prasetyo Hadi di Kantor Bank Indonesia, Jakarta, dengan didampingi jajaran anggota Dewan Gubernur BI.
Karier Panjang Tiga Dekade dan Legacy Digitalisasi Rupiah
Perry Warjiyo pertama kali diangkat sebagai Gubernur BI pada Mei 2018 di masa pemerintahan Presiden Joko Widodo.
Dedikasi dan kinerjanya yang solid membuat DPR RI kembali menyetujui penunjukannya untuk periode kedua masa jabatan 2023–2028.
Baca Juga: NTB Jadi Episentrum FESyar KTI 2026, Bank Indonesia Gulirkan Empat Program Unggulan
Sebelum menduduki posisi puncaknya, Perry telah meniti karier selama lebih dari tiga dekade di BI, termasuk menjabat Deputi Gubernur BI, Direktur Eksekutif Departemen Riset Ekonomi dan Kebijakan Moneter, hingga Executive Director mewakili Asia Tenggara di International Monetary Fund (IMF).
Sepanjang kepemimpinannya, Perry dikenal konsisten menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah, mengendalikan laju inflasi, serta memperkuat bauran kebijakan (policy mix) moneter, makroprudensial, dan sistem pembayaran guna menopang pertumbuhan ekonomi nasional.
Salah satu rekam jejak terbesar Perry yang dirasakan langsung oleh masyarakat luas adalah percepatan digitalisasi sistem pembayaran nasional.
Di bawah komandonya, BI sukses meluncurkan dan memperluas ekosistem transaksi digital melalui Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS), layanan transfer antarbank BI-FAST, hingga penguatan pertahanan ekonomi digital Indonesia.
Pengunduran diri ini menandai berakhirnya era kepemimpinan Perry Warjiyo di Bank Indonesia, sembari menunggu proses pencalonan dan pengajuan nama Gubernur BI yang baru oleh Presiden kepada DPR RI sesuai ketentuan perundang-undangan.
Editor : Redaksi Lombok Post OnlineSumber : jawapos..com