LombokPost--Senin (3/8) pekan lalu, titik api di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) mulai muncul. Hampir sepekan kemudian, tepatnya Ahad (9/8), sebagian kawasan di destinasi wisata dan pendakian andalan Jawa Timur itu masih membara.
Balai Besar TNBTS pun menutup sementara seluruh pintu masuk kawasan. Kebijakan tersebut mulai diberlakukan Sabtu (8/8) pukul 22.00 sampai waktu yang belum ditentukan.
Kepala TNBTS Rudijanta Tjahja Nugraha mengatakan, penutupan berlaku di pintu masuk Cemoro Lawang di Kabupaten Probolinggo, Wonokitri di Kabupaten Pasuruan, Jemplang dan Coban Trisula di Kabupaten Malang, serta Senduro di Kabupaten Lumajang. Bagi wisatawan yang telah membeli tiket masuk melalui aplikasi booking online TNBTS untuk jadwal kunjungan selama masa penutupan, pengelola memberikan dua pilihan: melakukan penjadwalan ulang (reschedule) atau pengembalian dana (refund).
“Pengajuan reschedule maupun refund dapat dilakukan dengan mengisi formulir yang disampaikan melalui admin aplikasi booking online TNBTS,” kata Rudi kepada Radar Bromo Grup Jawa Pos.
Kebakaran di TNBTS itu berbarengan dengan berbagai kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah daerah. Misalnya di Gunung Klotok, Kediri, Jawa Timur. Karhutla juga memicu kabut asap yang beberapa hari terakhir mengepung Kota Banjarbaru, Kalimantan Selatan.
Dari hasil pemantauan udara, di kawasan Kecamatan Sebangau, Kota Palangka Raya, Kalimantan Tengah, juga masih ditemukan asap tebal. Jarak pandang di lokasi tersebut bahkan berada di bawah 1.000 meter.
TNBTS terbentang di empat kabupaten (Probolinggo, Pasuruan, Malang, dan Lumajang) di Jawa Timur. Dari titik awal di Blok Bantengan, Senduro, Kabupaten Lumajang, sepekan lalu, api kini telah merambat ke wilayah di semua kabupaten tersebut.
Petugas TRC BPBD Kabupaten Probolinggo Jumadi mengatakan, api mulai kembali membesar Sabtu (8/8) sekitar pukul 16.00. Petugas bersama tim gabungan langsung berupaya melakukan pemadaman secara manual menggunakan gebyok. Mereka juga didukung mobil pemadam kebakaran (Damkar) yang mengerahkan fire truck ke lokasi.
Baca Juga: Membedah Finalitas Putusan Bebas dengan Pisau Analisis Wetgevingstheorie
Angin yang bertiup kencang membuat kobaran api cepat menjalar. Hal tersebut diperburuk kondisi vegetasi di kawasan sabana yang kering dan mudah terbakar.
Pada Sabtu pukul 12.00, luas lahan yang terbakar tercatat sekitar 205 hektare. Hingga pukul 00.00 atau 12 jam kemudian, luas tersebut bertambah 315 hektare menjadi sekitar 520 hektare.
Kobaran api juga terpantau di wilayah Argosari, Kabupaten Lumajang, dan Argowulan, Kabupaten Pasuruan. Sebelumnya, persisnya pada 5 Agustus lalu, api sempat masuk pula ke kawasan Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang, sebelum akhirnya bisa dipadamkan.
Dampak ke Wisata
Penutupan kawasan tersebut otomatis berdampak terhadap pelaku usaha jasa wisata. Adi, pemilik usaha jasa jip Bromo asal Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo, mengatakan, ada empat rombongan yang seharusnya menggunakan jasanya Ahad (9/8).
Namun, satu rombongan memutuskan untuk membatalkan kunjungan karena kebakaran. “Satu rombongan ini ada empat jip dengan total wisatawan 18 orang,” sebut Adi.
Di hari keenam kebakaran pada Ahad (9/8), Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak bersama Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni datang memantau penanganan kebakaran. “Ada tujuh fire truck yang kami turunkan. Dua di antaranya dari Mojokerto dan Surabaya, serta mobil tangki suplai air yang melakukan penanganan darat,” terang Emil.
Penanganan juga dilakukan dari udara. Tim mengerahkan drone sprayer serta tiga helikopter water bombing yang mengambil air dari Ranu Pane dan Ranu Regulo.
Baca Juga: Antisipasi Defisit, Pemprov NTB Susun APBD-P Lebih Realistis
Petugas, lanjut Emil, juga menemukan titik api baru di kawasan Pananjakan dan Dingklik yang berada di luar perimeter kebakaran sebelumnya. Temuan tersebut langsung ditangani agar api tidak kembali meluas.
“Sementara untuk memadamkan api yang besar memang harus pakai water bombing, terutama titik yang tidak bisa dijangkau secara manual,” jelasnya.
Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni menambahkan, pemadaman oleh tiga helikopter water bombing akan dilakukan sebanyak 30 sortie atau penerbangan untuk penyiraman dari udara. Hingga saat ini, menurutnya, sudah mencapai 17 sortie.
Sayangnya, lanjut Raja, upaya modifikasi cuaca belum dapat dilakukan dalam waktu dekat. “Berdasarkan koordinasi dengan BMKG, modifikasi cuaca belum memungkinkan dilakukan hingga sekitar 10 hari ke depan,” katanya. (gus/hn/sad/fud/biy/idr/wan/ttg/JPG/r3)
Editor : Kimda FaridaSumber : Jawa Pos