Korban Gempa NTT Terus Bertambah, 68 Orang Meninggal, 213 Luka-Luka

Kimda Farida • Dipublikasikan Selasa, 18 Agustus 2026 | 08:23 WIB
GEMPA NTT: Anggota Basarnas sedang mengamati sebuah masjid yang runtuh akibat gempa berkekuatan
magnitudo 7,7 di Desa Satar Kampas, Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), Senin (17/8). Foto kanan,
para pasien mendapatkan perawatan di tenda darurat menyusul gempa susulan pascagempa berkekuatan
magnitudo 7,7 di Rumah Sakit Santo Gabriel Kewapante, Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT), Senin (17/8)
GEMPA NTT: Anggota Basarnas sedang mengamati sebuah masjid yang runtuh akibat gempa berkekuatan magnitudo 7,7 di Desa Satar Kampas, Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), Senin (17/8). Foto kanan, para pasien mendapatkan perawatan di tenda darurat menyusul gempa susulan pascagempa berkekuatan magnitudo 7,7 di Rumah Sakit Santo Gabriel Kewapante, Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT), Senin (17/8)

 

LombokPost--Jumlah korban meninggal dalam bencana gempa bumi di Nusa Tenggara Timur (NTT) terus bertambah. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat, hingga pukul 17.00 Wita Senin (17/8), korban meninggal mencapai 68 orang. Sedangkan 213 lainnya mengalami luka-luka.

      Deputi Bidang Pencegahan BNPB Abdul Muhari mengatakan, korban meninggal dunia tersebar di tujuh kabupaten terdampak. Kabupaten Manggarai menjadi daerah dengan jumlah korban terbanyak, yakni 26 orang. Disusul Manggarai Timur sebanyak 24 orang, Nagekeo 8 orang, Sikka 4 orang, serta Ende, Manggarai Barat, dan Ngada masing-masing 2 orang.

      “Data yang kami peroleh hingga saat ini sebanyak 68 jiwa, sekali lagi, 68 jiwa yang meninggal,” kata Abdul dalam konferensi pers yang disiarkan secara daring, Senin (17/8).

      BNPB masih terus melakukan pemutakhiran data seiring berlangsungnya proses pencarian, evakuasi dan penanganan korban di sejumlah wilayah. Tim gabungan Basarnas juga masih disiagakan di tujuh kabupaten terdampak untuk mengantisipasi kemungkinan korban belum ditemukan.

      Aktivitas gempa susulan hingga Senin (17/8) juga masih terjadi di wilayah Flores. BNPB mencatat telah terjadi sebanyak 1.576 kali gempa susulan dengan magnitudo maksimum mencapai 6,21.

      Gempa juga berdampak pada sarana pendidikan di tujuh kabupaten di Pulau Flores. Yakni Ngada, Nagekeo, Ende, Manggarai, Manggarai Timur, Manggarai Barat, dan Sikka. Kemendikdasmen mencatat 253 satuan pendidikan (gedung sekolah) rusak. Rinciannya, 199 satuan pendidikan PAUD/TK, SD, SMP, dan SKB serta 54 satuan pendidikan SMA/SMK/SLB.

Baca Juga: TANPA BATAS USIA! Cek Posisi Lowongan 2.500 Volunteer MotoGP Mandalika 2026

      Manggarai Timur menjadi wilayah dengan dampak terparah. Terdapat 104 satuan pendidikan terdampak. Gempa juga menyebabkan dua murid dan seorang guru meninggal dunia.

      Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu'ti mengatakan, pihaknya telah berkomunikasi dengan Gubernur NTT untuk memastikan pendataan berjalan akurat sehingga bantuan tepat sasaran.

      "Keselamatan warga sekolah menjadi prioritas, dan proses pemulihan pendidikan akan kami kawal bersama pemerintah daerah hingga pembelajaran kembali berlangsung dengan aman dan nyaman," katanya.

      Kemendikdasmen menyiapkan 50 tenda ruang kelas darurat melalui dua klaster ekspedisi. Sebanyak 30 tenda dikirim dari Jakarta dan Jogjakarta menuju Labuan Bajo untuk wilayah Manggarai, Manggarai Timur, dan Manggarai Barat. Pengiriman dari Surabaya dilakukan 20 Agustus menggunakan KM Dharma Rucitra 7 dan dijadwalkan tiba 22 Agustus.

      Sebanyak 20 tenda lainnya dikirim dari Malang menuju Ende untuk wilayah Ende, Ngada, Sikka, dan Nagekeo. Pengiriman menggunakan KM Dharma Rucitra 8 pada 21 Agustus.

      Selain tenda, pemerintah menyalurkan Family Kit dan School Kit. Kemendikdasmen juga menyiapkan dukungan psikososial melalui Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI) serta konektivitas Starlink bagi wilayah yang mengalami gangguan jaringan.

Sekolah yang ruang kelasnya rusak diminta menghentikan sementara pembelajaran di ruangan tersebut. Kegiatan belajar dapat dipindahkan ke ruang aman atau tenda belajar. Sekolah juga dapat meliburkan pembelajaran sesuai kondisi daerah.

 Baca Juga: Gubernur Perintahkan DLHK dan DKP NTB Tangani Dugaan Pencemaran Laut Sambik Elen

Tanggap Darurat

 

Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa menyebut dana siaga bencana sekitar Rp 5 triliun telah disiapkan untuk kebutuhan tanggap darurat hingga pemulihan pascabencana.

      Purbaya mengatakan, penanganan awal menggunakan dana siap pakai yang tersedia di BNPB. Jika kebutuhan meningkat, pemerintah akan menambah anggaran sesuai kebutuhan dan mekanisme yang berlaku.

      "Biasanya kita pakai dana dari BNPB yang sudah kita siapkan. Masih ada tuh Rp 5 triliun, kalau nggak salah. Mungkin sebagian terpakai, tapi masih cukup," kata Purbaya, Senin (17/8).

      BNPB juga memiliki dana siap pakai sekitar Rp 500 miliar untuk kebutuhan darurat di lapangan. Pemerintah memastikan dana tersebut dapat ditambah jika tidak mencukupi.

 

Fasilitas Radiasi Aman

 

Badan Pengawas Tenaga Nuklir (Bapeten) memantau fasilitas pemanfaatan radiasi pengion di NTT. Dari 51 fasilitas yang ada di provinsi tersebut, 14 berada di delapan kabupaten terdampak gempa.

      Kepala Biro Hukum, Kerja Sama, dan Komunikasi Publik Bapeten Ishak mengatakan, hasil koordinasi sementara tidak menemukan dampak gempa terhadap keselamatan dan keamanan sumber radiasi pengion. Tidak ditemukan pula kenaikan paparan radiasi akibat gempa. Bapeten tetap memantau kondisi tersebut, terutama menyusul potensi gempa susulan. (mim/idr/raf/oni/JPG/r3)

Editor : Kimda Farida
Sumber : Jawa Pos
korban gempa NTT Gempa NTT gempa Nusa Tenggara Timur bencana NTT BNPB