Karhutla Kalimantan Ditangani 12.880 Personel, Helikopter Water Bombing Dikerahkan

Akbar Sirinawa • Dipublikasikan Jumat, 21 Agustus 2026 | 19:24 WIB
Petugas darat melakukan pembasahan pada lahan yang terbakar di Kalimantan, sebagai bagian dari penanganan karhutla. (Kemenhut)
Petugas darat melakukan pembasahan pada lahan yang terbakar di Kalimantan, sebagai bagian dari penanganan karhutla. (Kemenhut)

 

LombokPost-Pemerintah mengerahkan sedikitnya 12.880 personel untuk menangani kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan. Ribuan personel ditempatkan di tiga provinsi prioritas.

Sebanyak 1.410 personel bertugas di Kalimantan Barat (Kalbar). Sementara 10.700 personel dikerahkan di Kalimantan Tengah (Kalteng) dan 770 personel di Kalimantan Selatan (Kalsel).

Personel berasal dari Kementerian Kehutanan (Kemenhut), Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), dan BMKG. Pemerintah daerah dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) juga terlibat.

Unsur lainnya berasal dari TNI, Polri, Manggala Agni, dan Masyarakat Peduli Api. Pelaku usaha, relawan, serta masyarakat turut dilibatkan dalam penanganan karhutla.

Baca Juga: Luas Karhutla Capai 8.895 Hektare, NTB Perkuat Kesiagaan

Kepala Biro Humas dan Kerja Sama Luar Negeri Kemenhut Ristianto Pribadi mengatakan, operasi terpadu terus diperkuat. Penanganan disesuaikan dengan perkembangan situasi di lapangan.

”Operasi terpadu pengendalian kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan terus diperkuat melalui kolaborasi lintas sektor, dengan penanganan yang disesuaikan berdasarkan perkembangan kondisi di lapangan,” ungkap Kepala Biro Humas dan Kerja Sama Luar Negeri Kemenhut Ristianto Pribadi pada Jumat (21/8).

Selain melakukan pemadaman, personel gabungan memantau titik panas atau hotspot. Mereka juga merespons laporan masyarakat mengenai kebakaran.

Tim di lapangan melakukan patroli terpadu dan pemeriksaan lokasi. Pemadaman darat turut dilakukan untuk menangani titik kebakaran.

Baca Juga: Patroli Karhutla Diperkuat di Kawasan Sembalun

”Upaya juga mencakup pembasahan dan pendinginan area, penyekatan lokasi terbakar, serta penjagaan di wilayah rawan untuk mencegah api kembali muncul,” imbuhnya.

Koordinasi penanganan karhutla dilakukan melalui posko terpadu. Posko menjadi pusat pengendalian operasi dan penentuan lokasi prioritas.

Personel dan peralatan kemudian diarahkan berdasarkan perkembangan situasi di lokasi kebakaran.

Ristianto mengatakan operasi juga didukung berbagai sarana. Peralatan meliputi kendaraan, pompa, pompa jinjing, dan selang pemadaman.

Tim juga menggunakan flexible tank, alat komunikasi, serta alat pelindung diri.

Dukungan udara melibatkan helikopter patroli dan pesawat patroli fixed wing. Pemerintah turut mengerahkan helikopter water bombing.

Baca Juga: Kemenhut Siapkan Strategi Baru Lindungi Gajah Sumatera dan Habitatnya

Selain menambah personel, pemerintah meningkatkan kemampuan satuan tugas di lapangan. Penguatan dilakukan melalui penambahan sarana dan prasarana pemadaman.

Salah satu langkahnya berupa pembangunan dan pengaktifan sumur bor di sejumlah wilayah prioritas.

”Sumur bor diperlukan untuk memperpendek jarak pengambilan air, mempercepat pengisian peralatan pemadaman, serta menjaga kesinambungan pembasahan dan pendinginan,” jelasnya.

Ketersediaan air mendapat perhatian khusus dalam penanganan kebakaran di lahan gambut. Karakteristik gambut memungkinkan bara api bertahan di bawah permukaan.

Kondisi itu membuat api berpotensi kembali muncul jika pembasahan tidak dilakukan secara menyeluruh.

Karena itu, pemerintah tidak hanya melakukan pemadaman. Proses pendinginan menjadi bagian penting dalam operasi penanggulangan karhutla di Kalimantan.

Penanganan karhutla dilakukan melalui koordinasi lintas sektor, penguatan personel, serta dukungan peralatan. Ketersediaan sumber air juga diperkuat agar penanganan kebakaran dapat dilakukan secepat mungkin.

Editor : Akbar Sirinawa
karhutla Kalimantan lahan gambut water bombing kementerian kehutanan BNPB