MBG Kembali Makan Korban, 592 Santri di Sidoarjo Diduga Keracunan Usai Konsumsi MBG

Kimda Farida • Dipublikasikan Kamis, 3 September 2026 | 09:01 WIB
RATUSAN KORBAN: Sejumlah siswa dan santri mendapat penanganan medis di RSUD R.T. Notopuro Sidoarjo setelah mengalami dugaan keracunan makanan program Makan Bergizi Gratis (MBG), Rabu (2/9). Jumlah korban tercatat mencapai 592 orang.
RATUSAN KORBAN: Sejumlah siswa dan santri mendapat penanganan medis di RSUD R.T. Notopuro Sidoarjo setelah mengalami dugaan keracunan makanan program Makan Bergizi Gratis (MBG), Rabu (2/9). Jumlah korban tercatat mencapai 592 orang.

 

LombokPost--Jumlah siswa di Sidoarjo yang mengalami dugaan keracunan makanan terus bertambah.

Hingga Rabu (2/9) pukul 16.00 WIB, tercatat 592 orang mendapat penanganan medis. Sebanyak 493 di antaranya telah diperbolehkan pulang setelah kondisinya membaik. 

      Para korban tersebut merupakan penerima makanan bergizi gratis (MBG) dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kalitengah, Tanggulangin.

Sebagian besar merupakan santri Pondok Pesantren Manbaul Hikam, Tanggulangin.

Namun, gangguan kesehatan juga dilaporkan terjadi di sejumlah lembaga pendidikan lain yang menerima MBG dari SPPG Kalitengah.

      Pantauan Jawa Pos di RSUD R.T. Notopuro Sidoarjo Rabu (2/9) siang, puluhan santri Manbaul Hikam masih berdatangan.

Mereka tiba secara bergelombang dalam rentang sekitar 40 menit.

      Staf Humas RSUD R.T. Notopuro Sidoarjo Rizqi Maulana mengatakan, pasien tambahan masuk mulai pukul 10.50 hingga 11.30.

Baca Juga: Ekonomi NTB Melejit 7,41 Persen, Smelter dan Konsumsi Rumah Tangga Jadi Motor Utama

Dua hingga tiga di antaranya harus dibawa menggunakan kursi roda dan bed trolley.

      Keluhan mereka relatif sama dengan pasien sebelumnya. Sebagian mengalami diare dan dehidrasi sehingga harus menjalani pemeriksaan dan observasi di rumah sakit.

 

Gejala Muncul Dua Jam Setelah Makan

 

Hasan, salah seorang santri Manbaul Hikam, menceritakan kronologi kejadian tersebut.

Menurut dia, makanan MBG tiba di pondok sekitar pukul 11.30. Para santri kemudian menyantapnya sekitar pukul 13.00.

      Sekitar pukul 15.00, sejumlah santri mulai mengeluhkan sakit perut.

 ’’Ada yang sakit perut. Terus saya ajak ke Poskestren. Tiba-tiba banyak yang sakit dan gejalanya sama,’’ katanya.

      Santri lainnya, Reza, mengatakan menu yang diterimanya terdiri atas nasi putih, telur orak-arik, tempe bumbu Bali, sayuran berkuah, dan apel.

Baca Juga: Bulog Jamin Stok Beras NTB Aman 27 Bulan Ke Depan

Saat menyantap makanan tersebut, Reza mengaku tidak mencium bau atau merasakan sesuatu yang aneh.

Namun, dia mendapat informasi dari temannya bahwa terdapat ulat pada telur.

      ’’Dugaan saya sih di apel karena ada cokelat-cokelatnya. Kalau menu yang saya makan nggak ada yang aneh. Tapi, menu teman saya itu ada ulatnya di telur,’’ ungkapnya.

Dapur Ponpes Hanya Sediakan Makan Pagi dan Malam

Pengasuh Ponpes Manbaul Hikam KH Abdul Wahid Harun menegaskan, makanan MBG yang diterima para santri berasal dari SPPG Kalitengah, Tanggulangin.

Makanan tersebut bukan berasal dari dapur pondok.

      Menurut dia, dapur pesantren hanya menyediakan makan pagi dan malam.

Sementara makan siang berasal dari program MBG.

’’Kalau makan siang dari MBG itu sendiri,’’ terangnya.

      Sejumlah orang tua korban meminta program MBG dihentikan sementara.

Baca Juga: ITDC Perkuat Ekosistem Pariwisata Lewat MotoGP Mandalika 2026  

Salah satunya Sulastri, ibu Reza. Dia meminta program tersebut tidak dilanjutkan sebelum ada jaminan keamanan makanan.

’’Anak-anak ini penerus bangsa. Tolong jangan korbankan anak kami. Kalau bisa, MBG ditutup,’’ ungkapnya.

SPPG Kalitengah Suplai MBG untuk 19 Lembaga

 

Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Dardak menyambangi para santri korban.

Dia mengatakan, gangguan kesehatan tidak hanya dialami santri Manbaul Hikam.

Sebab, SPPG Kalitengah menyalurkan MBG ke 19 lembaga pendidikan dengan total penerima manfaat mencapai 2.854 orang.

 ’’Saya pastikan tidak ada yang meninggal. Ada 19 lembaga pendidikan yang terdampak, salah satunya Ponpes Manbaul Hikam,’’ ungkapnya.

      Emil meminta Dinas Pendidikan dan Dinas Kesehatan menelusuri seluruh lembaga penerima MBG dari SPPG Kalitengah.

Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan ada tidaknya kejadian serupa.

Baca Juga: Wamen PKP Sebut Rekonstruksi Sade Jangan Asal Jadi

      Kepala Dinas Kesehatan (Dikes) Sidoarjo Lakhsmie Herawati Yuantina mengatakan, penanganan dilakukan secara terpadu karena jumlah korban cukup besar.

Dikes mengaktifkan sistem kesehatan di lapangan serta menyiapkan tenaga medis dan fasilitas pendukung di sejumlah rumah sakit.

Selain menangani korban yang telah mendapat perawatan, dikes menelusuri siswa yang tidak masuk sekolah di lembaga penerima MBG.

Penelusuran dilakukan untuk memastikan apakah ketidakhadiran tersebut berkaitan dengan kejadian ini atau disebabkan faktor lain.

      ’’Kami koordinasi secara berkala dengan dinas pendidikan untuk mengecek dan mendeteksi siswa yang kemungkinan menjadi korban,’’ jelasnya.

      Bupati Sidoarjo Subandi menyebut kejadian tersebut menjadi bahan evaluasi tata kelola program MBG.

Dari 170 SPPG di Sidoarjo, 31 di antaranya disebut belum mengantongi izin.

Kondisi tersebut, kata Subandi, telah disampaikan kepada Badan Gizi Nasional (BGN).

 

BGN Minta Kepala SPPG Diganti

 

BGN memutuskan menghentikan operasional SPPG Kalitengah selama 30 hari.

Deputi Pemantauan dan Pengawasan BGN Ketut Sumedana mengatakan, penghentian tersebut merupakan bagian dari evaluasi dan pengawasan pelaksanaan program pemenuhan gizi.

      BGN juga mengusulkan pencopotan kepala SPPG dan pergantian pengelola.

Bersama Dikes Sidoarjo, BGN masih melakukan investigasi untuk memastikan penyebab kejadian tersebut.

’’Hasilnya akan kita umumkan, terutama mengenai apa yang menyebabkan terjadinya keracunan,’’ ujarnya.

      Informasi yang dihimpun Jawa Pos, SPPG Kalitengah berlokasi di Jalan Raya Tanggulangin Nomor 29, Sidoarjo.

SPPG tersebut dikelola Yayasan Indonesia Makmur Mandiri yang dipimpin Irawati Kusumo.

Kepala SPPG yang tercatat adalah Rafli Ridho. SPPG tersebut memiliki 2.854 penerima manfaat dari 19 lembaga pendidikan.

      Rafli menyampaikan permintaan maaf atas kejadian yang membuat ratusan santri mengalami gangguan kesehatan.

’’Mohon maaf. Saya menyesal,’’ katanya.

      Rafli menjelaskan, proses pengolahan makanan dimulai sekitar pukul 00.00 WIB.

Memasak dimulai pukul 05.30. Makanan kemudian dikirim kepada penerima manfaat sekitar pukul 11.00.

      Selain dari Ponpes Manbaul Hikam, pihaknya menerima laporan lima siswa SDN Kalitengah 1 dan SDN Kalitengah 2 mengalami dugaan keracunan. Laporan tersebut diterima Selasa (1/9) malam.

Sebelumnya, kata Rafli, tidak ada laporan serupa dari penerima MBG lainnya.

Terkait kondisi makanan, Rafli mengaku mendapat informasi ada makanan yang terasa kecut. Dia mengaku bingung karena sebelum dibagikan, makanan telah melalui uji organoleptik oleh petugas penanggung jawab di sekolah dan tidak ditemukan masalah. 

Baca Juga: Merawat Warisan Leluhur di Rumah Adat Karang Bayan, Benahi Benteng Rumah Adat

’’Saya tanyai aman, nggak ada masalah. Tapi, kenapa kok bisa keracunan begitu?’’ ujarnya.

Rafli menyebut makanan masih aman dikonsumsi sekitar empat jam setelah dikirim. (eza/ful/idr/lyn/oni/JPG/r3)

 

Editor : Kimda Farida
Sumber : Jawa Pos
dugaan keracunan MBG keracunan makanan Makan Bergizi Gratis Mbg Sidoarjo