Hotspot Kalsel Turun Jadi 15 Titik, Menhut Ingatkan Ancaman Karhutla Belum Reda

Akbar Sirinawa • Dipublikasikan Selasa, 13 Oktober 2026 | 07:11 WIB
Prajurit TNI memadamkan api di lokasi karhutla. Belasan ribu personel dikerahkan untuk membantu penanganan karhutla di berbagai daerah Indonesia. (TNI)
Prajurit TNI memadamkan api di lokasi karhutla. Belasan ribu personel dikerahkan untuk membantu penanganan karhutla di berbagai daerah Indonesia. (TNI)

 

LombokPost-Jumlah titik panas (hotspot) di Kalimantan Selatan (Kalsel) turun dari 28 menjadi 15 titik, terendah dibandingkan provinsi lain di Kalimantan. Meski demikian, Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni meminta seluruh pihak tidak mengendurkan kewaspadaan terhadap kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Hal itu disampaikan Raja Juli saat meninjau penanganan karhutla di Hutan Lindung Liang Anggang, Kelurahan Landasan Ulin Barat, Kecamatan Liang Anggang, Kota Banjarbaru, Senin (12/10). Peninjauan dilakukan bersama Gubernur Kalsel H. Muhidin serta jajaran TNI dan Polri.

Raja Juli mengatakan data Sistem Pemantauan Karhutla (Sipongi) Kementerian Kehutanan menunjukkan kondisi titik panas di Kalsel lebih rendah dibandingkan provinsi lain di Kalimantan. Namun, ancaman kebakaran masih harus diwaspadai, terutama di Kalimantan Tengah dan Kalimantan Barat.

“Dan per hari ini tercatat alhamdulillah Kalimantan Selatan angka hotspot-nya terbaik di Kalimantan. Kita masih punya tantangan di Kalimantan Tengah dan Kalimantan Barat namun hal itu tidak membuat kita terlena,” kata Raja Juli.

Baca Juga: Status Siaga Karhutla Bertahan Sebulan Lagi, Hujan Diprediksi Baru Turun November–Desember

Berdasarkan data Sipongi hingga 11 Oktober 2026 pukul 23.59 WIB, sebanyak 519 titik panas terpantau di enam provinsi prioritas penanganan karhutla.

Kalimantan Tengah mencatat 199 titik panas, turun dari 288 titik pada 10 Oktober. Penurunan juga terjadi di Kalimantan Selatan, dari 28 menjadi 15 titik.

Sebaliknya, jumlah titik panas di Kalimantan Barat meningkat dari 44 menjadi 68 titik. Kondisi ini menjadi perhatian dalam upaya pengendalian karhutla di wilayah Kalimantan.

Sementara itu, Sumatera Selatan mencatat jumlah titik panas tertinggi di antara enam provinsi prioritas, yakni 223 titik. Riau mencatat 14 titik, sedangkan Jambi tidak memiliki titik panas berdasarkan data pemantauan itu.

Raja Juli meminta seluruh pihak terus memperkuat koordinasi penanggulangan karhutla. Upaya pengendalian dinilai masih membutuhkan keterlibatan berbagai unsur agar kebakaran dapat ditangani dan dampaknya diminimalkan.

Dalam kunjungannya, Raja Juli juga memeriksa kondisi kawasan Hutan Lindung Liang Anggang yang terdampak karhutla. Ia memantau langsung penanganan yang dilakukan petugas di lapangan.

Menurutnya, kerja sama antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, TNI, Polri, dan unsur masyarakat menjadi bagian penting dalam pengendalian kebakaran.

Raja Juli turut mengapresiasi keterlibatan Kapolda, Danrem, Masyarakat Peduli Api (MPA), Barisan Pemadam Kebakaran (BPK), serta para relawan yang membantu penanganan karhutla.

Ia meminta seluruh unsur tetap menjaga koordinasi dan kekompakan selama operasi penanganan berlangsung. Penurunan jumlah titik panas tidak boleh membuat upaya pengendalian kebakaran melemah.

“Saya minta seluruh pihak terus menjaga kerja sama dan kekompakan di lapangan. Kita bekerja maksimal untuk memastikan karhutla dapat ditangani dengan baik,” pungkasnya.

Editor : Akbar Sirinawa
Sumber : jawapos.com
Karhutla Kalimantan Selatan Hotspot Karhutla Hutan Lindung Liang Anggang kementerian kehutanan raja juli antoni