Brainrot Bukan Judi, Tapi Bisa Bikin Otak Anak Kecanduan Tanpa Sadar
LombokPost - “Tung tung tung sahur… ta ta ta sahur…”
Kalimat ini mungkin terasa lucu di awal.
Tapi ketika anak Anda menyanyikannya berulang-ulang, tanpa tahu makna, tanpa bisa berhenti—lama-lama muncul pertanyaan: apa sebenarnya yang terjadi di otaknya?
Apakah ini cuma tren biasa? Atau ada fenomena yang lebih dalam?
Belakangan, istilah brainrot mulai ramai dibahas, terutama di kalangan orang tua yang resah melihat anaknya tenggelam dalam konten absurd seperti Skibidi Toilet, meme viral, dan lagu-lagu aneh tanpa arti.
Dan yang lebih mengkhawatirkan: perilaku ini terlihat mirip dengan kecanduan judi.
Apakah Brainrot Itu Sejenis Judi?
Jawabannya singkat: tidak.
Brainrot bukan aktivitas taruhan, tidak ada uang yang dipertaruhkan, dan tidak melibatkan mesin slot atau gacha.
Tapi... cara kerjanya terhadap otak sangat mirip. Sama-sama mengaktifkan sistem dopamin reward loop yakni respons otak terhadap kejutan kecil yang menyenangkan.
Saat anak scroll TikTok atau YouTube Shorts dan tiba-tiba menemukan video absurd yang lucu atau mengganggu, otaknya mendapatkan “hadiah instan”.
Sensasi itu bikin anak ingin scroll lagi. Dan lagi. Dan lagi.
Mirip seperti orang dewasa yang narik tuas mesin judi dan berharap menang kecil, lalu ketagihan karena "sekali lagi mungkin lebih seru".
Brainrot dan Konten Absurd: Viral Tapi Kosong?
Konten seperti Skibidi Toilet, Tung Tung Tung Sahur, dan meme absurd lainnya memang viral. Tapi seringkali, tidak mengandung narasi utuh, tidak punya nilai logis atau edukatif, hanya mengandalkan keanehan dan pengulangan.
Anak-anak yang terpapar terus-menerus bisa mengalami, penurunan fokus, karena otaknya terbiasa dengan tempo cepat dan instan; Kesulitan berpikir runtut, karena konten absurd tidak membangun pemahaman sebab-akibat; Kebiasaan bicara aneh, karena mereka meniru suara atau gaya dari konten tersebut.
Mirip Judi: Sistem Reward Tanpa Pola
Dalam judi, pemain kecanduan karena tidak tahu kapan akan menang dan justru itu yang bikin nagih.
Dalam brainrot, anak tidak tahu kapan konten lucu akan muncul, sehingga terus scroll dengan harapan menemukan "yang lebih absurd dari sebelumnya".
Sama-sama memanfaatkan ketidakpastian dan kejutan kecil untuk mengunci perhatian.
Meski banyak sisi negatif, konten brainrot tidak sepenuhnya buruk. Dalam kadar terbatas, konten absurd bisa, merangsang imajinasi liar anak, apalagi jika mereka mulai membuat versinya sendiri; Mengembangkan kreativitas digital, dari editing video, membuat meme, hingga animasi; Menjadi pintu masuk komunikasi, karena anak-anak sering membangun relasi sosial lewat tren lucu di internet.
Yang jadi bahaya adalah jika anak hanya jadi penonton pasif, bukan pelaku kreatif.
Brainrot mungkin bukan judi dalam definisi hukum. Tapi dari sisi psikologis, cara kerjanya pada otak bisa sangat serupa. Dan bagi anak-anak yang belum bisa menyaring, ini bukan sekadar lucu—tapi bisa jadi pintu masuk ke kecanduan pola pikir cepat, receh, dan sulit fokus.
Jadi, bukan soal melarang total. Tapi soal mengawal dengan peka, agar anak-anak bisa tetap menikmati dunia digital tanpa kehilangan arah.
Editor : Lalu Mohammad Zaenudin