LombokPost – Dalam film "Hanya Namamu dalam Doaku", Vino G. Bastian dan Nirina Zubir tampil sebagai pasangan suami-istri, Arga dan Hanggini, yang menghadapi cobaan berat dalam rumah tangga mereka.
Arga, yang diperankan oleh Vino, divonis mengidap ALS (Amyotrophic Lateral Sclerosis), sebuah penyakit gangguan saraf yang menyebabkan kelumpuhan.
Nirina Zubir, yang memerankan Hanggini, harus menghadapi kenyataan bahwa suaminya semakin tidak berdaya.
Untuk mendalami karakter dan penyakit ALS, Vino melakukan riset yang mendalam.
"Sinemaku Pictures sudah melakukan riset yang cukup panjang. Tapi saya juga melakukan riset pribadi dengan menonton dokumenter-dokumenter tentang ALS di Youtube, OTT, dan beberapa channel lainnya. Saya juga ikut seminar-seminar dan konsultasi ke beberapa dokter," ungkap Vino saat diwawancarai oleh Jawa Pos, Senin (28/7).
Tidak hanya melalui teori, Vino juga bertemu langsung dengan pengidap ALS.
"Saya ketemu sama pejuang ALS, bu Dewi, dan ada beberapa orang lain. Saya melihat ternyata yang sakit dan menderita itu bukan cuma pejuang ALS-nya, tapi caregiver-nya," tambahnya.
Sebuah pengalaman yang menyentuh, yang memperkaya pemahamannya tentang bagaimana beratnya hidup dengan ALS tidak hanya dirasakan oleh pasien, tetapi juga oleh keluarga dan orang-orang terdekatnya.
Vino pun mengungkapkan bahwa sebelum mendapat tawaran untuk peran Arga, pandangannya tentang ALS masih sangat terbatas.
"Saya ngira ini penyakit lah, tapi ternyata ALS ini sangat complicated. Bukan hanya berfokus kepada pengidap, tapi juga orang sekelilingnya, keluarganya, caregiver-nya. Kondisi mereka akan sangat berpengaruh terhadap kelangsungan hidup pejuang ALS ini," bebernya.
Selain ALS, film ini juga mengangkat tema tentang toxic masculinity yang terlihat dalam karakter Arga.
Vino menggambarkan bagaimana ambisi berlebihan Arga untuk membahagiakan keluarganya justru membuatnya menolak bantuan, bahkan ketika kondisi fisiknya semakin memburuk.
"Dia terlalu mencintai sesuatu dan ambisi yang berlebihan. Mau membahagiakan orang lain dengan cara yang salah. Ini bikin dia sensitif ketika ada yang ingin membantu dan ini yang bahaya. Padahal, mereka ingin membantu karena mereka tahu orang itu sebetulnya hebat dan mereka ingin berpartisipasi," tambah Vino.
Perjalanan karakter Arga dalam menghadapi penyakit ALS dan peran serta dampaknya terhadap keluarganya, termasuk isu toxic masculinity, tentu menjadi tantangan yang berat bagi Vino dan Nirina.
Film ini tidak hanya menampilkan drama keluarga yang menggugah hati, tetapi juga mengajarkan pentingnya empati dan dukungan bagi mereka yang berjuang melawan ALS.
Editor : Rury Anjas Andita