Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Film Horor Kampung Jabang Mayit: Ritual Maut, Perpaduan Cerdas Antara Ketegangan, Budaya Lokal, dan Pesan Moral

Geumerie Ayu • Kamis, 31 Juli 2025 | 05:30 WIB
Film horor kampung jabang mayit: ritual maut, perpaduan cerdas antara ketegangan, budaya lokal, dan pesan moral
Film horor kampung jabang mayit: ritual maut, perpaduan cerdas antara ketegangan, budaya lokal, dan pesan moral

LombokPost – Film horor Indonesia berjudul Kampung Jabang Mayit: Ritual Maut bukan hanya horor seram, tapi perpaduan cerdas antara ketegangan, budaya lokal, dan pesan moral.

Kampung Jabang Mayit: Ritual Maut menyuguhkan sesuatu yang segar sekaligus menghantui dalam khasanah perfilman horor Indonesia.

Film Kampung Jabang Mayit: Ritual Maut yang sedang tayang di bioskop ini menjadi salah satu horor lokal paling diperbincangkan tahun 2025 lantaran banyak hal menarik di dalamnya.

Film Jabang Mayit: Ritual Maut ini diangkat dari thread X (Twitter) karya Qwertyping (Teguh Faluvie), yang viral karena kisah mistis dan atmosfer mencekamnya.

Setelah sukses menjadi serial podcast video dengan jutaan pendengar, kisah Jabang Mayit: Ritual Maut akhirnya diangkat ke layar lebar, membawa kengerian digital ke pengalaman sinema.

Film Jabang Mayit: Ritual Maut mengusung genre folk horror dengan cita rasa Indonesia.

Seperti desa terpencil, dukun perempuan, praktik tumbal bayi, dan ritual keabadian, semuanya terasa sangat "nusantara" tanpa harus mengimitasi horor barat.

Alih-alih fokus pada jumpscare, film Jabang Mayit: Ritual Maut ini menakutkan karena atmosfer, mitologi desa, dan misteri yang perlahan terkuak.

Cuplikan film horor kampung jabang mayit: ritual maut
Cuplikan film horor kampung jabang mayit: ritual maut

Sebagian besar adegan horor terjadi di siang hari, menjadikan film Jabang Mayit: Ritual Maut ini unik.

Ini mematahkan stereotip bahwa teror hanya datang di malam hari, dan justru menciptakan kesan tidak aman kapan pun waktunya. Matahari bersinar terang, tapi kengerian tetap terasa.

Film Jabang Mayit: Ritual Maut menyentuh isu sensitif seperti aborsi dan trauma kehamilan di luar nikah, stigma terhadap perempuan yang “jatuh”, dan ketimpangan kekuasaan di desa-desa tertutup.

Lewat simbol-simbol seperti patung bayi, pita merah, dan ritual tumbal, film ini menyisipkan kritik sosial yang kuat dalam balutan horor.

Akting menakjubkan dari para pemeran juga membuat film ini semakin menarik.

Ersya Aurelia memukau sebagai Weda, transisi dari selebritas glamor ke korban teror dukun sangat emosional dan realistis.

Atiqah Hasiholan memerankan Ni Itoh, dukun perempuan penuh aura mistis dan karisma mengerikan.

Karakter pendukung seperti Rini, Bagas, dan tokoh warga memperkuat atmosfer desa yang menyeramkan namun "nyata".

Film ini berani menggunakan warna-warna terang dan palet warna alami desa (kuning padi, merah tanah, biru langit) yang justru menguatkan kesan tidak nyaman.

Tidak banyak efek CGI, teror dibangun lewat komposisi visual dan suara ambient yang menghantui.

Penonton diajak masuk ke dalam psikologi tokoh, rasa bersalah, penyesalan, kehilangan, dan ketakutan terhadap hukuman tak kasatmata.

Film ini menantang kita untuk bertanya: Apakah dosa bisa ditebus? Atau selalu harus dibayar dengan darah? (Geumie)

Baca Juga: Sadis dan Mencekam! Ini 5 Film Psikopat Korea Terbaik Sepanjang Masa yang Wajib Kamu Tonton, Ada yang dari Kisah Nyata

 

Editor : Rury Anjas Andita
#film horor #Kampung Jabang Mayit Ritual Maut #budaya lokal #film horor indonesia