Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Film Animasi ‘Merah Putih: One for All’ Dikritik Warganet, Rp 6,8 Miliar Kok Mirip Tugas Sekolah

Geumerie Ayu • Minggu, 10 Agustus 2025 | 17:50 WIB

Film animasi Merah Putih: One for All yang dikritik warganet
Film animasi Merah Putih: One for All yang dikritik warganet
LombokPost – Film animasi lokal terbaru Indonesia berjudul ‘Merah Putih: One for All’ menjadi sorotan tajam warganet dan menuai kontroversi besar, bahkan sebelum resmi tayang.

Film ‘Merah Putih: One for All’ yang digadang-gadang akan memeriahkan peringatan HUT ke 80 RI ini justru mendapat kritik pedas dari warganet.

Kualitas film ‘Merah Putih: One for All’ dinilai jauh di bawah ekspektasi, terutama jika melihat anggaran produksinya yang fantastis.

Kritik utama yang menghujam film ‘Merah Putih: One for All’ berawal dari trailer yang dirilis.

Banyak warganet yang menyamakan visual film ‘Merah Putih: One for All’ dengan grafis game PlayStation 2 atau animasi lawas di awal tahun 2000-an.

Karakter-karakter di dalam film dinilai kaku, minim ekspresi, dan pergerakannya terasa tidak alami.

"Visualnya kayak tugas sekolah yang dikejar deadline," ujar salah satu warganet.

Warganet menyoroti eksekusi film ‘Merah Putih: One for All’ yang dianggap terburu-buru dan tidak profesional.

Poster film animasi Merah Putih: One for All yang dikritik warganet.
Poster film animasi Merah Putih: One for All yang dikritik warganet.

Perbandingan ini semakin diperkuat dengan minimnya detail dan orisinalitas dalam desain karakter dan latar dari film ‘Merah Putih: One for All’ ini.

Salah satu poin paling disorot adalah besarnya dana produksi film ‘Merah Putih: One for All’ yang dilaporkan mencapai Rp6,7–6,8 miliar.

Angka ini memicu pertanyaan besar, ke mana perginya uang sebanyak itu?

Netizen menuding bahwa anggaran tersebut tidak sejalan dengan kualitas visual yang ditampilkan film ‘Merah Putih: One for All’.

Kecurigaan muncul bahwa film ‘Merah Putih: One for All’ hanya menggunakan aset 3D yang dibeli dari toko online alih-alih membuat aset orisinal, sehingga mengurangi nilai artistik dan keunikan visualnya.

Film ‘Merah Putih: One for All’ diduga kuat sebagai 'proyek dadakan' yang sengaja dibuat untuk memanfaatkan euforia HUT ke-80 RI pada Agustus mendatang.

Strategi ini dianggap lebih mementingkan momentum daripada kualitas artistik.

Kritik tajam bahkan menyamakan film ini dengan 'tugas PPKn anak SMA' karena alur ceritanya yang dinilai klise.

Kisah tentang anak-anak dari berbagai suku yang bersatu menyelamatkan bendera nasional dianggap kurang inovatif, terutama jika dibandingkan dengan narasi karya-karya animasi lokal lain yang lebih matang.

Kontroversi ini semakin memanas ketika film ‘Merah Putih: One for All’ dibandingkan dengan film animasi lokal lainnya, seperti Jumbo.

Film tersebut dipuji karena kualitas visual dan narasi yang kuat, membuktikan bahwa Indonesia memiliki talenta dan kemampuan untuk memproduksi film animasi kelas atas.

Perbandingan ini secara tidak langsung menempatkan ‘Merah Putih: One for All’ dalam posisi yang kurang menguntungkan dan mempertegas kekecewaan publik terhadap standar kualitas yang ditampilkan.

Secara keseluruhan, film ‘Merah Putih: One for All’ menjadi contoh bagaimana ekspektasi publik terhadap industri animasi lokal semakin tinggi.

Alih-alih merayakan, film ‘Merah Putih: One for All’ justru memicu perdebatan tentang transparansi anggaran, pentingnya kualitas artistik, dan tantangan bagi sineas Tanah Air untuk tidak hanya mengejar momentum, tetapi juga menyuguhkan karya yang orisinal dan berkualitas tinggi. (Geumie)

Editor : Kimda Farida
#film animasi #tugas sekolah #dikritik warganet #MERAH PUTIH ONE FOR ALL #HUT ke 80 RI