Perempuan yang akrab disapa Lena Mecun ini menunjukkan keberhasilan pasti membarengi kerja keras.
Usaha rintisan Lena bersama suaminya ini bernama Lena Mecun Hydrofarm.
Lokasinya di Dusun Telotok Desa Sokong, Kecamatan Tanjung, Kabupaten Lombok Utara.
Usaha itu kini menjadi kebanggaan keluarga sekaligus inspirasi bagi warga sekitar, meski perjalanannya harus diawali dengan kegagalan total.
Di tahun 2020 Karta Yadi, suami Lena, mereka mencoba peruntungan pertama di dunia hidroponik.
Dengan modal terbatas, ia memanfaatkan botol plastik bekas sebagai instalasi tanam.
Hasilnya? Tentu saja nihil. "Belum menguasai ilmunya, akhirnya kami berhenti dulu," cerita Lena.
Namun, semangat mereka tidak padam. Tiga tahun berselang, pada 2023, pasangan muda ini memutuskan untuk mencoba lagi dengan pendekatan yang lebih serius.
Mereka berinvestasi membeli lima pipa paralon untuk menanam seratus pohon. Kali ini, ketekunan membuahkan hasil memuaskan.
"Alhamdulillah berhasil. Dari situ kami terus belajar sambil menanam, sedikit demi sedikit nambah instalasi, sampai sekarang bisa produksi lebih dari seribu pohon," beber Lena.
Pasangan ini belajar membangun kebun hidroponik secara otodidak, menimba ilmu dari media sosial dan pengalaman langsung.
Berkat kegigihan tersebut, kini Lena Mecun Hydrofarm berhasil menarik beragam kalangan pelanggan.
Permintaan suplai datang dari warga sekitar, toko sayur di Tanjung, restoran di kawasan wisata Tiga Gili.
Bahkan tim program Makan Bergizi Gratis (MBG) sempat meminta pasokan hingga 65 kilogram per hari.
"Belum sanggup kami penuhi karena produksi masih terbatas. Sekarang fokus dulu melayani pelanggan rumah tangga dan toko sayur," jelas Lena.
Uniknya, banyak pelanggan memilih datang langsung ke kebun untuk memetik sendiri sayuran yang diinginkan.
"Katanya sensasinya beda, bisa lihat sendiri tanamannya dan tahu sayur itu dipetik baru," sebutnya.
Selain melayani petik langsung, Lena juga melayani sistem Cash On Delivery (COD) untuk wilayah Tanjung. Promosi sederhana terbukti efektif menarik pelanggan baru.
Saat ini, Lena mengelola delapan jenis sayuran hidroponik, meliputi selada hijau dan merah, pakcoy hijau dan merah, sawi samhong, basil, kangkung, dan pagoda.
Selada merah menjadi tantangan tersendiri karena memiliki tingkat keberhasilan pembenihan yang rendah.
Untuk menjaga kualitas prima, Lena menerapkan standar profesional dengan rutin memeriksa nutrisi, pH, dan kadar PPM minimal dua hari sekali.
Sistem rotasi panen juga diterapkan secara konsisten demi memastikan ketersediaan sayuran segar setiap hari bagi pelanggan.
Dari hobi yang dikelola serius ini, Lena kini mampu meraih omzet antara Rp 1,5-1,7 juta per siklus panen.
"Alhamdulillah, dari hobi jadi sumber rezeki. Hidroponik ini juga enaknya gak perlu siram tiap hari, cukup kontrol alatnya," katanya.
Meski pun belum mendapat dukungan spesifik dari pemerintah desa atau daerah, Lena tetap optimistis.
"Belum kepikiran ke sana, takutnya permintaan besar tapi produksi kami belum siap," ujarnya.
Tantangan terbesar saat ini justru hal sederhana, yakni menambah pipa paralon untuk memperluas instalasi.
Editor : Siti Aeny Maryam