Film Frankenstein karya Guillermo del Toro ini diadaptasi dari kisah klasik karya Mary Shelley dan resmi tayang secara global di Netflix pada Jumat (7/11), setelah pemutaran terbatas di bioskop.
Menampilkan jajaran bintang papan atas seperti Oscar Isaac, Mia Goth, dan Jacob Elordi, film Frankenstein karya Guillermo del Toro bukan sekadar horor klasik.
Film Frankenstein ini disebut-sebut sebagai salah satu produksi paling ambisius Netflix tahun 2025 yang berhasil mengantongi skor kritikus tinggi.
Mengapa 'Frankenstein' versi Del Toro begitu wajib ditonton dan memicu perbincangan? Berikut enam fakta menarik di balik layar yang menunjukkan dedikasi dan keunikan proyek emosional Guillermo del Toro.
- Kitab Suci Del Toro: Impian yang Tertunda Dua Dekade
Guillermo del Toro bukanlah penggemar biasa dari kisah Frankenstein.
Dilansir dari Netflix Tudum, Guillermo Del Toro mengakui telah mengagumi dan mengembangkan proyek adaptasi ini selama lebih dari dua dekade.
"Bagi saya, Frankenstein adalah kitab suci," ungkap Guillermo Del Toro.
Pernyataan ini menunjukkan betapa sentralnya kisah ciptaan dan pencipta ini dalam karya-karya Guillermo Del Toro, menjanjikan interpretasi yang kaya akan emosi, kemanusiaan, dan simbolisme yang menjadi ciri khasnya.
- Awalnya Dikonsep Dua Film, Kini Menghormati Novel Asli
Terdengar mengejutkan, proyek 'Frankenstein' versi Guillermo del Toro ini hampir saja dipecah menjadi dua bagian film.
Namun, Guillermo Del Toro pada akhirnya memutuskan untuk menggabungkannya menjadi satu karya utuh, yang dibagi ke dalam tiga bab utama: Prolog, Victor’s Tale, dan The Creature’s Tale.
Baca Juga: Kata Kunci Unik Pemeran Utama Drama Moon River Dekripsikan Chemistry Antar Karakter
Format tiga bab ini dipilih sebagai bentuk penghormatan langsung kepada struktur naratif dan kedalaman emosional dari novel asli Mary Shelley.
Ini menunjukkan bahwa Guillermo Del Toro fokus pada penceritaan yang padat dan kaya, ketimbang sekadar durasi.
- Tarian Butō di Balik Monster dan Jacob Elordi
Karakter sentral, ‘The Creature’ (Makhluk Ciptaan), diperankan oleh bintang yang sedang naik daun, Jacob Elordi.
Untuk menghidupkan visual sang monster, Elordi harus menjalani proses yang sangat intens. Ia menggunakan total 42 potongan prostetik yang harus dipasang setiap kali syuting.
Lebih dari sekadar tampilan fisik, gerakan tubuh Elordi juga disiapkan secara khusus di mana Guillermo Del Toro terinspirasi dari tarian Jepang butō, sebuah bentuk seni pertunjukan pascaperang yang mengekspresikan sisi gelap dan primal kemanusiaan.
Menariknya, perilaku anjing peliharaan Guillermo Del Toro juga menjadi referensi untuk gerakan 'The Creature', memberikan sentuhan yang realistis dan mendalam pada karakternya.
- Skor Kritikus 'Mentereng'
Sejak dirilis, film ini langsung panen pujian. Melansir data dari Rotten Tomatoes, 'Frankenstein' berhasil mencatat skor tinggi, yakni 85% Tomatometer dari kritikus dan 95% Popcornmeter dari penonton.
Para kritikus memuji pendekatan Guillermo Del Toro yang sarat emosi serta penampilan kuat dari trio pemeran utama.
Film ini dinilai bukan hanya sekadar menghidupkan kembali horor klasik, melainkan menjelma menjadi drama eksistensial yang menyentuh dan membuat penonton merenung.
- Syuting di Katedral & Rumah Bersejarah Eropa
Demi menciptakan atmosfer Gotik yang kelam, megah, dan autentik, Guillermo Del Toro memilih untuk meminimalkan penggunaan set digital.
Dilansir dari Condé Nast Traveller, film ini mengambil lokasi syuting di beberapa bangunan bersejarah nyata di Skotlandia dan Inggris.Beberapa lokasi ikonik yang digunakan antara lain Glasgow Cathedral dan Wilton House.
Penggunaan lokasi asli ini berhasil memberikan kesan visual yang klasik, kuat, dan terasa nyata, yang merupakan elemen kunci dalam sinema Guillermo Del Toro.
- Tayang Terbatas di Bioskop untuk Mengejar Penghargaan
Meskipun secara global dirilis di Netflix, 'Frankenstein' sempat tayang terbatas di bioskop pada 17 Oktober 2025.
Langkah strategis ini dilakukan agar film tersebut memiliki kesempatan untuk bersaing dalam musim penghargaan bergengsi, seperti Oscar.
Keputusan ini terbukti berhasil dengan sambutan positif dari berbagai pihak, menegaskan bahwa 'Frankenstein' Guillermo Del Toro adalah karya sinema yang serius.
Editor : Marthadi