Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Hidup 22 Tahun Sebagai Katolik, dr. Tirta Akhirnya Mualaf di Usia 23: “Aku Takut Ayahku Sulit Masuk Surga”

Alfian Yusni • Selasa, 11 November 2025 | 13:10 WIB
dr. Tirta menjadi mualaf setelah 22 tahun hidup sebagai umat Katolik. (Foto: instagram)
dr. Tirta menjadi mualaf setelah 22 tahun hidup sebagai umat Katolik. (Foto: instagram)

LombokPost - Nama dr. Tirta sudah lama dikenal publik, bukan hanya karena profesinya sebagai dokter dan pengusaha sepatu, tapi juga karena gaya bicaranya yang ceplas-ceplos dan apa adanya.

Namun, di balik sosok yang kerap viral itu, tersimpan kisah spiritual yang jarang diketahui: perjalanan dr. Tirta menjadi mualaf setelah 22 tahun hidup sebagai umat Katolik.

Dalam sebuah podcast bersama komedian Mongol, kisah ini terkuak. Saat ditanya kebenaran kabar dirinya seorang mualaf, dr. Tirta menjawab tegas, “Iya, betul. Tahun 2013 aku mualaf, karena ngikutin bapakku.”

Ternyata, orang tua dr. Tirta menikah beda agama. Sang ibu beragama Katolik, sementara sang ayah seorang Muslim.

“Ibuku Katolik, tapi nikahnya secara Islam biar sah. Setelah menikah, ibuku tetap Katolik,” ujar dr. Tirta.

Sejak kecil hingga usia 22 tahun, dr. Tirta hidup sebagai umat Katolik, mengikuti keyakinan ibunya. Namun, titik balik itu datang ketika ia berusia 23 tahun. Ia memutuskan menjadi mualaf, mengikuti agama sang ayah.

“Aku Katolik sampai umur 22, terus aku Muslim dari umur 23 sampai sekarang,” kata dokter kelahiran Solo itu.

Keputusan dr. Tirta menjadi mualaf bukan tanpa alasan. Ia mengaku mendapat “panggilan” usai membaca artikel broadcast di masa kejayaan BlackBerry. Artikel itu menyebutkan bahwa “kalau anak tidak Muslim, ayah sulit masuk surga.”

Kalimat itu membuatnya tertegun. “Waduh, kok kasihan banget bapakku. Bapakku sudah berkorban sejauh ini, aku sudah jadi dokter.

Aku pikir, kalau dengan aku masuk Islam bisa bikin beliau tenang, kenapa tidak?” ungkapnya.

 

Namun, langkah dr. Tirta menjadi mualaf tak diambil gegabah. Ia sempat berdiskusi dan berkonsultasi dengan beberapa kiai untuk memastikan keputusannya benar-benar tulus dari hati.

Hingga akhirnya, pada tahun 2013, dr. Tirta mengucap dua kalimat syahadat dan resmi menjadi seorang Muslim.

Kini, dokter berdarah Jawa-Tionghoa itu hidup dalam keyakinan baru yang diyakini datang dari hidayah. Ia tetap menjunjung toleransi antaragama seperti yang ditanamkan keluarganya sejak kecil.

Kisah dr. Tirta menjadi mualaf ini menjadi refleksi bahwa perjalanan iman setiap orang memiliki jalannya sendiri, kadang berawal dari kasih, berlanjut karena rasa hormat, dan berakhir dengan ketenangan hati. (***)

Editor : Alfian Yusni
#dua kalimat syahadat #dr. Tirta #Mualaf