LombokPost - Menonton sebuah drama Korea (drakor) dengan jajaran pemain utama yang berasal dari satu agensi besar kini bukan lagi hal yang langka.
Strategi yang dikenal dengan istilah "Agency Packaging" di mana agensi "menitipkan" aktor-aktor asuhannya untuk mendampingi sang bintang utama dalam satu proyek kini mulai mendominasi industri penyiaran di Korea Selatan.
Ini dikhawatirkan akan membuat persaingan tidak sehat.
Fenomena yang Kian Terang-terangan
Tren ini terlihat jelas dalam berbagai drama populer baru-baru ini. Drama SBS "Phantom Lawyer" misalnya, memasangkan Yoo Yeon-seok dengan Kim Kyung-nam yang keduanya berada di bawah naungan King Kong by Starship.
Hal serupa terjadi pada serial JTBC "The Practical Guide to Love" yang memboyong Han Ji-min, Park Sung-hoon, dan Cho Bok-rae dari agensi BH Entertainment.
Bahkan, serial mendatang SBS "Good Partner 2" dikabarkan mengisi lini pemainnya dengan Park Hae-jin, Kim Hye-yoon, dan Pyo Ji-hoon, yang semuanya terafiliasi dengan Artist Company.
Strategi Efisiensi vs Hilangnya Kesempatan
Pihak perusahaan produksi membela praktik ini sebagai strategi pasar yang masuk akal.
Membangun proyek di sekitar bintang besar yang sudah terbukti mampu menarik penonton dianggap meminimalkan risiko finansial.
Selain itu, menggunakan aktor dari satu agensi diklaim meningkatkan efisiensi produksi dan membangun chemistry di layar dengan lebih cepat.
"Mempromosikan aktor dalam satu naungan adalah strategi win-win bagi semua pihak. Sulit untuk melihatnya sebagai sesuatu yang sepenuhnya negatif," ujar seorang pejabat produksi.
Namun, kritik tajam datang dari orang dalam industri. Praktik ini dinilai menciptakan ketidakseimbangan struktural yang menghambat peluang audisi terbuka.
"Bahkan saat audisi dilakukan, aktor terkadang merasa peran tersebut sebenarnya sudah diisi lewat jalur belakang," ungkap seorang sumber industri.
Risiko Kehilangan Wajah Baru
Keluhan mengenai "kurangnya aktor baru" di industri drakor dinilai berakar dari kurangnya kesempatan, bukan kurangnya bakat.
Penulis naskah ternama, Im Sung-han (Phoebe), menekankan bahwa menemukan aktor yang benar-benar cocok dengan karakter jauh lebih penting daripada sekadar memenuhi kuota kontrak agensi.
Kritikus memperingatkan bahwa memprioritaskan hubungan kontrak di atas kemampuan akting dapat membuat performa drama terasa kurang meyakinkan dan membosankan bagi penonton.
Saat peluang terkonsentrasi hanya pada segelintir agensi raksasa, keberagaman karakter dan latar belakang aktor pun menjadi terancam.
Industri konten Korea kini dituntut untuk menemukan keseimbangan yang berkelanjutan antara efisiensi produksi dan kompetisi yang sehat, agar regenerasi talenta tetap berjalan dinamis di tengah persaingan pasar global yang semakin ketat.
Editor : Redaksi