Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Dikes: Waspadai Penyakit ISPA

Administrator • Senin, 1 Juli 2019 | 15:32 WIB
DINGIN: Seorang pengendara melintas di jalan raya Desa Dopang, Kecamatan Gunungsari, Lombok Barat. Pada pagi hari, tanaman padi masih diselimuti embun yang dingin.
DINGIN: Seorang pengendara melintas di jalan raya Desa Dopang, Kecamatan Gunungsari, Lombok Barat. Pada pagi hari, tanaman padi masih diselimuti embun yang dingin.

MATARAM-Suhu wilayah NTB masih sangat dingin. Terutama pada malam dan dini hari, dinginnya menjadi-jadi. Kemarin, pukul 06:00 Wita, suhu di Kota Mataram mencapai 18 derajat celcius. Hal itu terpantau dari layar smartphone.


Eka Septiana, salah seorang warga di Kelurahan Jempong Baru merasakan dingin yang ekstrem. Dia mengaku sampai menggigil. Bahkan minum air putih biasa seperti meminum air es, karena air galon di dapurnya ikut dingin. "Lebih dingin dari biasanya," ujar salah satu karyawan swasta itu.


Sementara pantauan BMKG menunjukkan, nilai rata-rata suhu minimum di bulan Juni 20,6 derajat celcius. Itu menjadikan bulan Juni 2019 menjadi yang terdingin dalam delapan tahun terakhir. Meskipun belum melampaui rekor suhu minimum rata-rata terendah yang tercatat di tahun 2011 dengan suhu minimum 18,4 derajat celcius, yang membuat 2011 sebagai tahun paling dingin di NTB.


Prakirawan BMKG Stasiun Klimatologi Lombok Barat Restu Patria Megantara menjelaskan, berdasarkan hasil observasi di Stasiun Klimatologi Lombok Barat, suhu minimum terendah bulan Juni tercatat 16,8 derajat celcius, kemarin (30/6) pagi. Nilai itu merupakan rekor suhu minimum terendah ketiga pada Juni. Sebelumnya tanggal 24 Juni 2011 suhu terendah 15 derajat celcius, dan 18 Juni 2004 16,2 derajat celcius.


"Rekor nilai suhu minimum terendah yang pernah tercatat di Stasiun Klimatologi Lombok Barat adalah 12,2 derajat celcius, 23 Juli 2011 silam," katanya.


Dengan anomali cuaca itu, masyarakat diimbau mewaspadai beberapa penyakit yang berpotensi terjadi. Karena meski dingin, NTB sudah memasuki musim kemarau.


Kepala Dinas Kesehatan NTB dr Hj Nurhandini Eka Dewi mengatakan, salah satu penyakit yang diwaspadai adalah diare. Keterbatasan air membuat kualitas air minum di daerah kekeringan juga menurun. "Hal itu menyebabkan potensi  diare meningkat," katanya, kemarin.


Demikian juga saat suhu udara dingin, biasanya meningkatkan kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA). Infeksi ini menyebabkan penderitanya mengalami gangguan pernapasan. Dimana virus menyerang hidung, trakea atau paru-paru. "Pada saat udara dingin, virus mudah berkembang dan menyerang," jelas mantan Kadikes Lombok Tengah itu.


Salah satu cara menjaga kekebalan tubuh adalah menjaga makanan, dengan tetap mengkonsumsi makanan bergizi. Kalau udara dingin dan ekstrem, ia mengimbau warga mengurangi aktivitas di luar ruangan. "Minimalisasi keluar pada saat udara dingin," imbuhnya.


Terpisah, Prakirawan BMKG Stasiun Meteorologi Bandara Internasional Lombok (BIL) Aprilia Mustika Dewi menjelaskan, suhu dingin yang akhir-akhir ini terjadi disebabkan adanya pola pergerakan angin dari Australia menuju Asia yang melewati Indonesia. "Massa udara yang dibawa bersifat dingin dan kering," jelasnya.


Faktor yang mempengaruhinya adalah perbedaan tekanan yang membentuk pola pergerakan udara. Tekanan akan bergerak dari tekanan tinggi yaitu Australia ke tekanan rendah Asia. Perbedaaan tekanan yang cukup  signifikan akan menyebabkan menguatkannya tarikan massa udara dan kecepatan angin, khususnya di wilayah NTB.


Selain itu, pada musim kemarau tutupan awan sedikit, bahkan tidak ada sama sekali. Sehingga panas yang diserap permukaan bumi pada siang hari sangat mudah dilepas di malam hari. "Karena itu saat malam suhu terasa dingin," terang Dewi.


Dengan cuaca seperti itu, masyarakat diimbau mengantisipasi perubahan suhu yang lebih dingin dari biasanya. Caranya dengan mencukupi kebutuhan cairan agar tidak dehidrasi, memakai pakaian dan selimut yang lebih tebal, serta memakai pelembab kulit agar tidak kering.


Masyarakat juga perlu mewaspadai potensi peningkatan kecepatan angin di wilayah NTB. Serta mewaspadai potensi gelombang tinggi di wilayah NTB.  "Diprakirakan tinggi gelombang mencapai lima meter di Samudera Hindia bagian selatan," imbuhnya. (ili/r5)

Editor : Administrator
#NTB