Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Berkunjung ke Berugak Buku di Desa Durian, Lombok Tengah

Administrator • Selasa, 9 Juli 2019 | 18:09 WIB
LITERASI: Yusuf Tantowi (berdiri) salah seorang penulis membagikan ilmunya kepada para pelajar di Berugak Buku.
LITERASI: Yusuf Tantowi (berdiri) salah seorang penulis membagikan ilmunya kepada para pelajar di Berugak Buku.

Budaya literasi masyarakat masih rendah. Tapi kini muncul gerakan-gerakan anak muda yang mengajak warga gemar dan cinta membaca. Seperti Berugak Buku yang dikembangkan Ahmad Jumaili, pemuda di Dusun Paoq Dandaq, Desa Durian, Kecamatan Janapria, Kabupaten Lombok Tengah.


 SIRTUPILLAILI, Lombok Tengah


===========================

Sebuah gazebo (berugak) persegi empat berdiri di tengah sawah. Ukurannya cukup lebar dengan atap terbuat dari ilalang. Di sekelilingnya terdapat taman kecil lengkap dengan kolam ikan. Berbagai jenis bunga, sayuran, dan tanaman obat seperti selada, kunyit hingga pohon mahkota dewa tumbuh di situ.


Dari atas berugak, hamparan sawah nan hijau tersuguh. Tiupan angin sepoi-sepoi sesekali menggelitik. Duhhh... segarnya. Di berugak itu terpasang dua rak panjang berisi buku dan majalah.


Sore itu, saat Lombok Post berkunjung, beberapa orang pelajar tengah berdiskusi sambil membuka buku-buku. Entah dia membahas isi buku atau hal lain. Tapi wajah mereka cukup serius. Di sampingnya, seorang laki-laki bertubuh kurus sedang sibuk membuka-buka buku di rak itu. Ia juga memunguti buku-buku dan majalah yang berserakan di berugak.


Begitulah kesibukan sehari-hari di Berugak Buku itu. Hampir setiap hari, warga dan pelajar memanfaatkan berugak sebagai tempat belajar, membaca dan berdiskusi.


"Sebenarnya ada yang tugas merapikan buku-buku ini setiap hari, tapi karena hari minggu, anak-anak sedang libur," kata Ahmad Jumaili memulai percakapan.


Ahmad Jumaili adalah pendiri dan pemilik Berugak Buku itu. Nama berugak buku dicetuskannya untuk menamai kegiatan literasi di kampung halamannya.


Dinamakan Berugak Buku karena gazebo atau bale tradisional orang Sasak menjadi basis tempat untuk menyerukan semangat literasi. Baik membaca, menulis, dan berdiskusi. "Kami ingin ajak warga senang membaca," katanya.


Berugak Buku didirikannya pada tahun 2017. Berawal dari keresahan atas miskinnya literasi masyarakat desa. Diperparah dengan tidak adanya toko buku, maupun perpustakaan di desanya. Akhirnya, Jumaili berinisiatif mengumpulkan buku koleksinya sendiri, kemudian dipinjamkan untuk dibaca orang-orang.


Setahun kemudian, ia berupaya menggalang donasi buku melalui Facebook. Hasilnya tak kurang dari 500 judul buku dengan berbagai disiplin keilmuan berhasil ia kumpulkan.


Semua jenis buku mulai novel, majalah hingga literatur ilmiah mereka terima selama masih bisa dimanfaatkan. "Donasi kita buka seluas-luasnya" tutur Jumaili, yang juga pengelola Yayasan Ponpes Sirajul Huda itu.


Kegiatan literasi di Berugak Buku kini tidak hanya membaca dan menulis, tetapi juga  mengadakan kegiatan-kegiatan pelatihan, workhsop, baca puisi, mendongeng dan kelas inspirasi.


Setiap hari Sabtu, berugak buku memiliki kegiatan akhir pekan yang dijuluki #BBWeekEndForum. Pagi harinya diisi dengan kelas inspirasi dan sorenya diisi dengan diskusi tematik atau apresiasi sastra.


Setiap Sabtu pagi biasanya berugak buku disesaki siswa-siswi sekolah dasar (SD) atau madrasah ibtidaiyah (MI) yang ikut kelas Inspirasi. Pembicaranya adalah praktisi, akademisi, aktivis, penulis, hingga wartawan. Mereka sengaja diundang Berugak Buku untuk berbagi inspirasi kepada mereka soal profesi masing-masing.


Yang unik, berugak buku juga memberikan kesempatan kepada turis-turis luar negeri untuk mengisi kelas ini. Terhitung sudah puluhan turis dari berbagai negara pernah datang ketempat itu, ada yang datang untuk mengisi kelas inspirasi, tapi ada yang datang berwisata sambil belajar pertanian organik.


Dalam kelas inspirasi, selain berbagi cerita soal profesi masing-masing, juga menjadi tempat praktik mengajar sehari. Para bule itu bisa merasakan sensasi menjadi guru seperti para guru madrasah. "Kalo kebetulan bule, kita siapkan penerjemah, sekaligus anak-anak belajar bahasa inggris dan arab," tutur pria yang akrab disapa Jeli itu.


Dia berharap semakin banyak kegiatan literasi di tempat itu, akan semakin banyak pula warga yang datang membaca. Sehingga budaya membaca semakin kuat di tengah masyarakat. (r5/*)

Editor : Administrator
#NTB