MATARAM-Masih banyak warga tidak menggunakan masker saat keluar rumah. Hal itu terlihat di jalan-jalan raya di Kota Mataram. ”Sampai saat ini kami terus memberikan imbauan dan sosialisasi,” kata Kepala Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) NTB Tri Budiprayitno, kemarin (8/5).
Setiap hari, Satpol PP NTB mengerahkan tiga regu yang menyasar pusat-pusat keramaian. Mereka mengimbau warga mengenakan masker. Bila ada yang tidak pakai masker langsung distop dan dipasangkan. ”Daerah yang agak rawan itu di daerah-daerah perniagaan seperti pasar,” katanya.
Rencananya, mulai pekan depan, akan digelar aksi simpatik maskerisasi lebih masif. Aksi simpati dilakukan pada hari Senin, Selasa dan Rabu. Setelah itu akan dilakukan razia disertai pemberian sanksi. ”Akan kita petakan titik-titik keramaian, kita mulai dari Kota Mataram,” katanya.
Aksi simpatik sebenarnya sudah dilakukan, namun selama ini belum disertai sanksi. Dalam aksi minggu depan akan lebih banyak pihak dilibatkan. ”ASN akan disebar dan juga sedang diskenariokan melibatkan organisasi pemuda,” jelasnya.
Bentuk sanksi masih dirumuskan, jika daerah lain menerapkan hukuman push-up, di NTB sanksi bisa berupa pernyataan tertulis dia tidak akan keluar tanpa masker lagi. ”Sedang disusun bentuknya sama buk asisten, nanti akan diawali dengan maklumat gubernur,” jelasnya.
Komandan Regu Lapangan Satpol PP NTB Rony Fareki menambahkan, dalam patroli yang dilakukan Kamis (7/5), regu dua mengerahkan 16 orang anggota.
Patroli dimulai dari markas menuju pusat keramaian di Cakranegara, seperti Pasar Cakranegara, perempatan Sweta, Pasar Mandalika, Desa Bengkel, Dasan Cermen, Pagutan, dan Asrama Haji NTB. ”Kondisi masyarakat masih ramai melakukan aktivitas di beberapa tempat perniagaan,” katanya.
Kesadaran menggunakan masker mulai membaik, 85 persen warga mengenakan masker. ”Sebagian yang belum menggunakan masker,” katanya.
Sebagai pelindung masyarakat, Satpol PP terus mengupayakan penyadaran masyarakat dalam penggunaan masker. ”Kami membawa masker untuk dibagikan, ini cukup efektif menyadarkan warga,” katanya.
Khusus di Pasar Mandalika, kegiatan distancing market terkendala beberapa hal seperti suasana panas, bahan dagangan cepat rusak, dan areal jalan yang tidak ditutup. (ili/r5)
Editor : Redaksi Lombok Post Online