”Di saat yang lain sibuk tangani covid, kami sibuk antisipasi ledakan penduduk, yang takutnya timbul persoalan baru pascacovid,” kata Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) NTB Hj Putu Selly Andyani, kemarin (17/5).
Pihaknya belum memiliki data apakah ada peningkatan jumlah ibu hamil atau tidak di NTB. ”Kita masih antisipasi saja agar tidak terjadi ledakan penduduk sembilan bulan ke depan,” ujar mantan kadis perdagangan ini.
Dengan banyaknya aktivitas warga di rumah, potensi penambahan penduduk jelas lebih besar dibandingkan sebelumnya. Intensitas pasangan suami istri bertemu meningkat selama pandemi, apalagi mereka bekerja dari rumah. ”Ini baru potensi yang ingin kita antisipasi,” katanya .
Selly mengimbau seluruh keluarga menciptakan keluarga yang berkualitas. Ikuti anjuran pemerintah dengan dua anak cukup. “Jangan lupa gunakan alat kontrasepsi untuk menghindari ledakan jumlah penduduk di masa covid-19,” katanya.
Hamil atau melahirkan di tengah pandemi covid-19 bukan tanpa risiko. Ibu dan anak sangat rentan, apalagi mereka harus tetap kontrol dan ketemu dengan banyak orang. Terlebih penularan lokal semakin banyak.
”Risiko angka kematian ibu dan bayi berisiko meningkat karena situasi pandemi ini,” kata Kepala Dinas Kesehatan NTB dr Hj Nurhandini Eka Dewi.
Pemerintah tidak melarang warga berhubungan suami istri, tetapi kehamilan bisa dicegah dengan alat kontrasepsi. ”Pakai keluarga berencana dong,” imbuhnya. (ili/r5)
Editor : Administrator