Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Kasus Korona Melandai, Tinggal Mataram dan Lobar Masih Zona Merah

Administrator • Jumat, 26 Juni 2020 | 10:00 WIB
JEMPUT PASIEN: Petugas kesehatan dan gugus tugas penanganan covid-19 melakukan penjemputan terhadap PDP positif di Kelurahan Cakranegara Barat, Sabtu malam (9/5) lalu. (DIDIT/LOMBOK POST)
JEMPUT PASIEN: Petugas kesehatan dan gugus tugas penanganan covid-19 melakukan penjemputan terhadap PDP positif di Kelurahan Cakranegara Barat, Sabtu malam (9/5) lalu. (DIDIT/LOMBOK POST)
MATARAM-Penularan virus Korona di NTB mulai menunjukkan tanda-tanda membaik. Meski pasien baru masih bermunculan, namun zona merah berkurang drastis.

”Tinggal Kota Mataram dan Lombok Barat saja yang merah atau berisiko tinggi,” kata juru bicara Tim Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 NTB I Gede Putu Aryadi, Kamis (25/6).

Bila sehari sebelumnya semua daerah di NTB masuk zona merah, kini terlihat wilayah Lombok Utara, Sumbawa, Dompu, dan Bima masuk zona kuning atau dengan risiko rendah. ”Kasus positif Covid-19 tidak terlalu banyak,” jelasnya.

Kemudian Lombok Tengah, Lombok Timur, dan Sumbawa Barat masuk zona orange artinya risiko penularan sedang. Hanya Kota Bima yang masuk zona hijau atau sudah tidak ada kasus lagi. ”Sudah tuntas dia kalau hijau,” katanya.

Penentuan zona tersebut dilakukan oleh Gugus Tugas Covid-19. Penentuannya menggunakan 15 indikator. Antara lain penurunan kasus positif Covid-19 selama dua pekan berturut-turut. Juga di dalamnya kasus kematian. Kemudian juga jumlah penduduk, daerah sebaran, pelacakan kontak, jumlah orang dalam pemantauan (ODP), jumlah pasien dalam pengawasan (PDP), dan jumlah pasien sembuh.

Dari seluruh indikator itu kemudian dibuat skoring. Sehingga kemudian ditetapkan status sebuah daerah apakah masih zona merah, zona oranye, zona kuning, atau sudah masuk zona hijau.

Meski begitu, di beberapa daerah, status zona ini dinamis. Sebab, ada daerah yang sudah menjadi hijau, kembali menjadi zona merah. Sebab, muncul kasus baru. Dan diperkirakan hal tersebut akibat pergerakan populasi dari satu daerah ke daerah lain yang tidak diantisipasi secara ketat.

Gede Aryadi berharap peta risiko penularan itu terus membaik, sampai semua daerah menjadi hijau dan NTB bisa bebas dari kasus Covid-19. ”Tapi kita tidak boleh lengah,” ujarnya.

Apalagi jumlah pasien baru dan jumlah yang meninggal juga bertambah. Meski penambahan kasus hanya di wilayah Mataram dan Lombok Barat namun tetap harus diantisipasi dengen menerapkan protokol Covid-19.

”Yang harus diantisipasi ini PPTG (pelaku perjalanan tanpa gejala), kalau tidak hati-hati kasus bisa nambah lagi,” katanya.

Selama ini penambahan kasus Covid-19 banya dari PPTG, PDP dan ODP. Sehingga keberadaan mereka juga perlu dipantau terus.

Hingga 25 Juni, jumlah kasus Covid-19 di NTB mencapai 1.142 kasus. Pasien sembuh 780 orang, masih dirawat 311 orang, dan meninggal dunia bertambah jadi 51 orang. Ada tambahan pasien meninggal dua orang dari Mataram dan Lombok Barat. ”Jumlah PDP 391 orang dan 205 orang PDP,” jelasnya.

Penambahan kasus Covid-19 kemarin 23 orang dengan pasien sembuh 11 orang. Sebagian besar pasien baru berasal dari Kota Mataram dan Lombok Barat.

Grafik penambahan kasus dan peta risiko penularan, Gede menyerukan, kini waktunya bagi warga untuk mulai beradaptasi dengan tatanan baru. Mulai dengan menggunakan masker, rajin cuci tangan, dan menjaga jarak fisik. ”Sekarang bukan lagi melawan Korona tetapi bersahabat dengan Korona dengan tatanan baru,” ujarnya.

 

112 Daerah di Indonesia

 

Perubahan status zona sejumlah daerah di NTB, kemarin diterbitkan oleh Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 (GTPPC-19) menerbitkan peta sebaran zonasi berdasarkan resiko penularan Covid-19 di Kabupaten/Kota di Indonesia. Sebanyak 74 Kota dinyatakan tidak terdampak, 188 beresiko rendah. Serta 38 lainnya berhasil menekan penyebaran Covid-19 selama 4 minggu terakhir.

Berdasarkan data Gugus Tugas, 57 kabupaten/kota dikategorikan sebagai daerah risiko tinggi dengan kode warna merah, 157 kabupaten/kota masuk kategori resiko sedang dengan kode warna oranye, 188 kabupaten/kota masuk kategori resiko rendah dengan warna kuning. Kemudian sisanya, 112 masuk kategori tidak terdampak/tidak ada kasus baru alias zona hijau.

Ketua Tim Pakar GTPPC-19 Wiku Bakti Bawono Adisasmito memamparkan ada total 112 Kabupaten/Kota  yang masuk kategori zona hijau.

Wiku menjelaskan bahwa zona hijau dibagi menjadi dua kategori, pertama daerah yang tidak terdampak artinya sejak awal tidak tercatat memiliki kasus positif. Kemudian daerah yang pernah terdampak, namun tidak lagi mencatatkan pertambahan kasus.

"Tidak ada pertambahan kasus baru dalam 4 minggu terakhir. Kemudian tingkat kesembuhannya 100 persen alias tidak ada kasus kematian," ujar Wiku kemarin (25/6)

Dari total 112 wilayah tersebut, 74 wilayah administrasi kabupaten dan kota dengan kategori belum pernah atau tidak ada kasus positif, sedangkan 38 sisanya merupakan wilayah yang dulunya pada zona oranye (tingkat risiko sedang) atau kuning (risiko rendah) yang mampu untuk berubah menjadi hijau.

Tim Pakar Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 Dewi Nur Aisyah mengatakan bahwa bahwa 30 persen dari kabupaten dan kota di Indonesia masih berada pada katergori resiko sedang (oranye) dan 11 persen lainnya masih berada pada risiko tinggi.

Dewi mengatakan bahwa pihaknya menggunakan 15 indikator kesehatan masyarakat. Ke-15 indikator tersebut terbagi menjadi 11 indikator epidemologi, 2 indikator surveilens kesehatan masyarakat , 2 Indikator pelayanan kesehatan  dan 1 indikator persentase kasus sembuh .

“Persentase kasus sembuh untuk menghitung sudah seberapa banyak orang yang sudah terpapar COVID-19 yang kemudian sembuh di sebuah wilayah,” kata Dewi.

Pada kategorisasi risiko, Gugus Tugas Nasional telah menentukan menjadi empat zona risiko yang dideskripsikan dengan warna. Zona risiko menjelaskan tingkat risiko tinggi (merah), sedang (oranye), rendah (kuning) dan tidak ada kasus (hijau).

Dewi menjelaskan, bahwa pembagian zona ini berjalan dengan data yang dinamis dan dimutakhirkan. Bisa saja sebuah daerah sebelumnya merupakan zona hijau dan termasuk kota yang tidak terdampak. Namun menjadi kuning atau oranye karena ada pertumbuhan kasus baru.

Tapi bisa jadi sebaliknya. ”Tidak ada kasus baru dalam 4 minggu terakhir. Kemudian tingkat kesembuhan mencapai 100 persen, artinya tidak ada yang meninggal, maka daerah tersebut dapat bergerak kembali menuju zona berwarna hijau,” jelas Dewi.

Dewi menjelaskan, berdasarkan pengamatan GTPPC-19, terjadi perbaikan dan pergerakan status dari periode Mei 2020.  ”Jumlah kabupaten/kota yang tidak terdampak, atau dengan risiko rendah bergerak dari mulai 46,7 persen, bergerak menuju 52 persen, dan terakhir per tanggal 21 Juni mencapai 58,37 persen,” jelasnya. (ili/jpg/r6)

 

MATARAM

 

LOMBOK BARAT

 

LOMBOK TENGAH

 

LOMBOK TIMUR

 

LOMBOK UTARA

 

SUMBAWA BARAT 

 

SUMBAWA

 

DOMPU

 

BIMA

 

KOTA BIMA

 

Sumber: Gugus Tugas Covid-19 NTB Editor : Administrator
#Virus Korona #Headline #Mataram #NTB