Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Penduduk Miskin di NTB Bertambah 8.210 Orang

Administrator • Kamis, 16 Juli 2020 | 14:48 WIB
BERTAHAN DI TENDA: Sahnim, salah seorang warga korban gempa di Desa Dopang, Kecamatan Gunungsari saat menggendong cucunya pekan lalu.
BERTAHAN DI TENDA: Sahnim, salah seorang warga korban gempa di Desa Dopang, Kecamatan Gunungsari saat menggendong cucunya pekan lalu.

MATARAM-Pandemi Covid-19 membuat jumlah penduduk miskin NTB bertambah. Badan Pusat Statistik (BPS) NTB merilis, penduduk miskin bulan Maret tahun ini 713.890 orang, bertambah 8.210 orang dibandingkan September 2019 sebesar 705.680 orang.


”Sedangkan persentase penduduk miskin periode September 2019 sampai Maret 2020 mengalami kenaikan 0,09 persen, dari 13,88 persen menjadi 13,97 persen,” kata Kepala BPS NTB Suntono, dalam rilisnya, kemarin (15/7).


Ia menyebut, peran komoditi makanan terhadap garis kemiskinan jauh lebih besar dibandingkan peran komoditi bukan makanan. Seperti perumahan, sandang, pendidikan, dan kesehatan. ”In terjadi baik di perkotaan maupun pedesaan,” katanya.


Sumbangan komoditi makanan terhadap garis kemiskinan sebesar 74,71 persen untuk daerah perkotaan dan 74,73 persen untuk pedesaan.


Suntono menambahkan, indeks kedalaman kemiskinan di NTB mengalami kenaikan dari 2,119 pada September 2019 menjadi 2,577 pada Maret 2020. ”Ini mengindikasikan rata-rata pengeluaran penduduk miskin di NTB cenderung menjauh dari garis kemiskinan,” jelasnya.


Garis kemiskinan, kata Suntono, dipergunakan sebagai batas menentukan miskin atau tidaknya seseorang. ”Penduduk miskin adalah penduduk yang memiliki rata-rata pengeluaran per kapita per bulan di bawah garis kemiskinan,” terangnya.


Sedangkan indeks keparahan kemiskinan juga mengalami kenaikan dari 0,519 pada September 2019 menjadi 0,611 Maret 2020. ”Ini berarti kesenjangan di antara penduduk miskin semakin lebar,” jelasnya.


Ditambahkan Suntono, persoalan kemiskinan bukan sekedar berapa jumlah dan persentase penduduk miskin. Tingkat kedalaman dan keparahan kemiskinan juga pelru diperhatikan. ”Selain memperkecil jumlah penduduk miskin, kebijakan penanggulangan kemiskinan juga terkait bagaimana mengurangi kedalaman dan keparahan kemiskinan,” sarannya.


Terkait angka itu, Kepala Dinas Sosial NTB H Ahsanul Khalik mengatakan, penambahan jumlah penduduk miskin saat ini masih terkendali. Meski ada kenaikan 0,09 persen dibanding September, namun masih lebih rendah dari jumlah kemiskinan pada Maret 2019. ”Jumlah penduduk miskin di NTB pada Maret 2019 tercatat 735.96 ribu orang atau 14,56 persen,” sebutnya.


Data itu menunjukkan, program penanganan dampak Covid-19 di NTB berjalan sesuai harapan dan harus terus dikuatkan. ”Harapan kita kebijakan gubernur untuk program stimulus ekonomi pasca JPS Gemilang bisa mamperkuat ketahanan masyarakat,” katanya.


Bantuan stimulus ekonomi itu diharapkan tidak menambah terlalu banyak angka kemiskinan di NTB pada September 2020. ”Dampak Covid-19 tetap menjadi perhatian utama dalam menekan laju pertambahan penduduk miskin,” katanya.


Sementara itu, penyaluran bantuan JPS Gemilang tahap III sudah 20,12 persen. Jumlah KK yang mendapatkan bantuan 22.159 KK dari total kuota penerima 110.130 KK se-NTB.


Penyaluran tahap III sudah dilakukan tujuh daerah yakni Lombok Barat 3.201 paket bantuan, Lombo Utara 915 paket, Lombok Tengah 3.415 paket, Lombok Timur 8.356 paket, Dompu 2.856 paket, Bima 1.813 paket, dan Kota Bima 1.603 paket bantuan. ”Belum terdistribusikan 87.971 paket bantuan,” katanya.


Tiga daerah lainnya yakni Mataram, Sumbawa, dan Sumbawa Barat belum menyalurkan bantuan. ”Proses penyaluran masih terus berlangsung, kami pastikan bantuan sampai ke masyarakat sesuai target,” kata Khalik.  (ili/r6)

Editor : Administrator
#Kemiskinan di NTB #penduduk miskin #BPS NTB