”Lonjakan kasus di Bima, Dompu, atau Sumbawa, awalnya itu dari pelaku perjalanan,” kata Kepala Dinas Kesehatan (Dikes) NTB dr Hj Nurhandini Eka Dewi.
Eka mengatakan, penularan bisa saja terjadi akibat tidak melaksanakan protokol kesehatan. Apalagi kebanyakan pelaku perjalanan yang positif covid tidak menunjukkan gejala sakit. Dengan kata lain, mereka masuk kategori orang tanpa gejala (OTG).
Akibat merasa sehat, pelaku perjalanan yang OTG, justru berkeliaran. Berkumpul dan berkegiatan dengan banyak orang. Sehingga membuat orang lain terpapar virus korona. ”Karena merasa sehat, mereka jalan-jalan. Berkumpul. Tapi tidak pakai masker. Kalau protokol dijalankan, tentu yang positif hanya pelaku perjalanan itu saja,” ujarnya.
Dari lima kabupaten di Pulau Sumbawa, Dompu memiliki riwayat pelaku perjalanan yang tertinggi. Misalnya di 21 November, ada 1.252 orang masuk kategori pelaku perjalanan. Kemudian di 24 November terdapat 1.534 orang. Sebanyak 1.167 orang tercatat di 25 November.
Selanjutnya di 27 November ada 2.246 pelaku perjalanan dan 2.586 orang di 29 November. Total sudah ada 15.739 pelaku perjalanan. Dari jumlah tersebut sebanyak 8.253 orang diminta untuk melakukan karantina mandiri.
Lonjakan kasus di Pulau Sumbawa, kata Eka, sebelumnya sudah terjadi di Pulau Lombok. Kondisi di Bima saat ini, banyak pasien umum yang dipindah perawatannya ke Dompu dan Sumbawa, akibat keterbatasan kamar.
”Saya selalu bilang ke teman-teman di Bima, apa yang dialami sekarang, itu sudah dialami Lombok di Bulan Juli,” tutur Eka.
Menyikapi kondisi tersebut, pemprov tetap melakukan pengawasan dengan ketat. Untuk langkah pencegahannya, Eka menyebut tidak ada cara lain. Selain dengan menerapkan protokol kesehatan.
Eka lantas memberi contoh. Kasus di Kota Mataram atau Pulau Lombok secara umum, terlihat melandai. Tak lepas dari penerapan protokol kesehatan. Masyarakat mulai terbiasa. Bahkan tak jarang menegur orang yang tidak memakai masker di ruang publik.
”Di Lombok sudah landai. Kita lihat dari jumlah sampel yang diperiksa dan kasusnya, itu menurun. Sekarang kita tes 100, itu positifnya nol. Kalau dulu, sampel 100, yang positif bisa 20,” jelas Eka.
Untuk membantu percepatan tracing di ujung timur NTB, Eka mengatakan, pemprov telah meminta bantuan alat PCR ke BNPB. ”Itu sedang kita perjuangkan. Kalau di Lombok, cuma Lombok Utara saja yang tidak ada alat, sisanya sudah ada semua,” tuturnya.
Sebelumnya, Wakil Gubernur NTB Hj Sitti Rohmi Djalilah berharap bantuan alat PCR bisa segera direalisasikan. Sehingga mempermudah dan mempercepat kerja petugas kesehatan di lapangan. Dalam melakukan tracing kontak.
”Untuk saat ini, saya tetap mengimbau dan meminta masyarakat agar terus disiplin menjalankan protokol kesehatan,” kata Rohmi. (dit/r5)
Editor : Baiq Farida