Elvi mengatakan, NTB merupakan salah satu provinsi dengna tingkat kerawanan bencana yang cukup tinggi. Dari lama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), setidaknya ada 5 hingga 9 potensi bencana yang ada di NTB.
Dengan kerawanan bencana cukup tinggi, tentu dibutuhkan persiapan dalam menghadapi kondisi darurat. Perlu upaya pencegahan yang salah satunya dengan meningkatkan kewaspadaan. Terutama terkait perlindungan terhadap kelompok rentan, seperti perempuan dan anak.
”Kita bersinergi untuk bisa memberikan penguatan dan dukungan psikososial,” ujarnya.
Dia menerangkan, ketika terjadi bencana, anak masuk sebagai salah satu prioritas yang harus diperhatikan. Anak memiliki banyak sekali kebutuhan, seperti persoalan keselamatan, pendidikan, hingga psikologinya.
Anak juga sangat rentan mengalami trauma sebagai dampak dari bencana. ”Persoalan perkawinan anak dan human trafficking juga rentan dialami anak saat terjadi bencana,” sebut Elvi.
Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Bencana (DP3AP2KB) NTB Hj Husnanidiaty Nurdin mengatakan, selain menghadapi bencana alam dengan tingkat kerawanan yang cukup tinggi, anak di NTB juga saat ini berhadapan dengan pandemi covid.
”Anak-anak kita juga cukup banyak yang terpapar covid,” kata Eny, sapaan karibnya.
Pemprov NTB terus berupaya memberi perlindungan maksimal terhadap anak. Memastikan anak tetap sehat dan tidak tertular virus korona. Salah satu langkah pemprov melindungi anak-anak di NTB dengan mempercepat vaksinasi.
Hanya saja, dari 533.491 anak di usia 12 tahun hingga 18 tahun, yang menjadi target di NTB, baru sebagian kecil telah mendapat vaksinasi. Saat ini, baru 19.698 anak mendapat dosis pertama dan 8.650 anak untuk dosis kedua.
Eny mengatakan, sosialisasi dan edukasi terus digencarkan pemprov dalam program vaksinasi anak. Kegiatan vaksinasi massal juga terus dilakukan. Sehingga seluruh pihak bisa ikut membantu dan memberi pemahaman terhadap pentingnya vaksinasi kepada anak.
”Awal September rencananya kita vaksin massal untuk siswa. Bekerja sama dengan Dikbud dan Pramuka,” tuturnya.
Mengenai bimbingan teknis untuk penguatan psikososial, Eny berharap kegiatan ini bisa bermanfaat. Sehingga perlindungan terhadap anak di NTB, yang merupakan daerah rawan bencana, bisa dilakukan lebih maksimal. (dit) Editor : Administrator