Sejauh ini, sudah ada lebih dari 800 pekerja yang telah berangkat ke Kalimantan. Bekerja di ladang maupun perkebunan sawit milik sejumlah perusahaan. Pemberangkatannya dilakukan secara bertahap, disesuaikan dengan kebutuhan perusahaan.
Aryadi mengatakan, peluang kerja di Kalimantan masih terbuka lebar. Bisa menjadi alternatif bagi tenaga kerja di masa penutupan pengiriman Pekerja Migran Indonesia (PMI) ke Malaysia. Apalagi penggajian di Kalimantan cukup bagus, tidak kalah dengan di Malaysia.
”Kita ada dapat kuota pemberangkatan sebanyak 2.000 orang, itu bisa dimanfaatkan. Kalau gaji sebulan bisa lima sampai sepuluh juta, kalau rajin bisa dapat banyak,” ujarnya.
Sejauh ini, Malaysia belum membuka pintu untuk penerimaan PMI di sektor informal dari Indonesia. Belum ada kesepakatan antara pemerintah Indonesia dan Malaysia, terkait perlindungan pekerja bagi PMI hingga persoalan gaji.
Karena merupakan kesepakatan antar negara, Pemprov NTB masih dalam posisi menunggu. Dengan kondisi tersebut, Aryadi mengimbau masyarakat untuk bersabar. Tidak memaksakan diri bekerja di Malaysia, hingga menempuh jalur-jalur ilegal.
Meski masih ditutup, masih banyak warga NTB yang nekat berangkat ke Malaysia. Terlihat dari data pencegahan yang dilakukan Badan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (BP2MI) maupun Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker)
Seperti pada Januari lalu, terdapat 79 CPMI asal NTB yang dicegah berangkat ke Malaysia maupun Timur Tengah, karena menempuh cara unprosedural atau ilegal. Sebanyak 25 CPMI digagalkan oleh BP2MI dan 54 CPMI digagalkan Kemnaker. (dit/r5) Editor : Rury Anjas Andita