Kondisi ini mendapat perhatian khusus dari Asosiasi Perajin dan Pengusaha Batik Indonesia (APPBI).“Kembali lagi pada human capital (sumber daya manusia) bahkan orang yang mengkonsepkan kurang, minimnya kemitraan dengan komunitas fashion designer, serta pentingnya dukungan pemerintah dalam bentuk regulasi,” kata Ketua Umum APPBI H Komarudin Kudiya di Kota Bandung, Sabtu (26/3).
Pemerintah telah menetapkan setiap 2 Oktober diperingati sebagai Hari Batik Nasional. Batik tidak hanya dimiliki di daerah Pulau Jawa, tetapi batik khas juga dimiliki Provinsi NTB.
Batik Sasambo ini sempat booming pada September 2009, bahkan secara resmi dilaunching Pemprov NTB. Dengan menghadirkan puluhan motif batik Sasambo dan pasarannya tembus keluar daerah.
Menurutnya, salah satu upaya menggaungkan batik yang ada pada suatu daerah maka wajib digunakan atau didukung oleh Aparatur Sipil Negara (ASN) setempat. Harganya harus disesuaikan dengan kemampuan daerah.
“Kalau di Bandung dipakai, dengan regulasi khusus dalam bentuk perwal (peraturan walikota) dan masih dipakai sampai sekarang,” tambahnya.
Kebijakan ini, kata generasi kelima Rumah Batik H Komar, sudah ditetapkan pada sejumlah daerah di Indonesia. Antara lain, Jogjakarta, Kulonprogo, Purwakarta. Dalam waktu lima hari kerja ASN terdapat satu harinya menggunakan seragam atau baju batik.
Terpenting, yang harus dicermati ketika kebijakan ini disusun adalah menjelaskan penggunaan batik. Batik yang benar adalah kain batik yang dalam proses pembuatannya menggunakan lilin panas. Bukan tekstil bercorak batik.
“Kebijakan ini harus tegas. Kalau sudah tekstil yang bercorak batik, ya punten-punten (maaf, red) itu bukan batik,” tegas H Komar.
Provinsi NTB yang memiliki batik Sasambo diharapkan bisa digaungkan kembali. Mengingat berbagai kegiatan event internasional telah dan masih banyak lagi akan digelar di Provinsi NTB. Seperti MotoGP Mandalika beberapa waktu lalu.
Ia menilai, NTB sangat layak membangun ekosistem perajin batik lebih besar, apalagi NTB terkenal juga dengan seni-seni kriya yang dimiliki dan cukup bagus. Embrio-embrio perajin batik mesti dihidupkan dan didukung penuh, bahkan APPBI bersedia bermitra dengan perajin batik Sasambo.
“Kami bisa datang untuk melatih, mengajarkan, membimbing, hingga pendampingan,” tandasnya. (ewi/r5) Editor : Rury Anjas Andita