Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Dewan Sebut APBD NTB 2022 Kurang Sehat, Penyebabnya Ternyata Ini!

Baiq Farida • Jumat, 8 April 2022 | 16:16 WIB
Mori Hanafi (dok Lombok Post)
Mori Hanafi (dok Lombok Post)
MATARAM-Wakil Ketua I DPRD NTB H Mori Hanafi menyebut kondisi Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) NTB Tahun 2022 dalam kondisi sulit atau kurang sehat.

"Kita dalam keadaan sulit, bukan bangkrut. APBD kita terkontraksi, dalam kondisi kurang sehat," ucapnya, Kamis (7/4/2022).

Mengapa demikian? Mori menjelaskan, ini disebabkan adanya beban hutang yang harus ditanggung APBD NTB tahun 2022 yang muncul dari ketidakmampuan pemerintah untuk membayar semua pekerjaan di akhir Desember tahun 2021 dengan nilai Rp 227 miliar.

"Terpaksa tidak dibayar karena tidak ada uangnya. Kebanyakan yang di hutang ini adalah pelaku-pelaku ekonomi lemah, seperti material proyek pembangunan," imbuh Mori.

Meski nilai beban hutang ini hanya lima persen dari nilai APBD NTB Tahun 2022, tidak bisa dibiarkan begitu saja. Pemerintah harus mengupayakan beban hutang ini terlunasi tahun ini sehingga tidak menjadi beban pada APBD NTB Tahun 2023. Mengingat tahun depan, sudah memasuki tahapan Pemilu Serentak 2024.

"Ini yang harus dipikirkan, bagaimana agar APBD kita sehat tahun 2023. Tidak ada lagi beban utang dari tahun-tahun sebelumnya," terang politisi Gerindra ini.

Lantas apa yang menyebabkan pemerintah daerah tidak mampu membayar? Menurutnya ada beberapa penyebab, pertama akibat dari pengurangan dana alokasi umum (DAU) pemerintah pusat ke daerah.

Kedua, sekitar delapan persen dari APBD NTB digunakan untuk kegiatan vaksinasi. Meski vaksinnya gratis, namun pemerintah harus membayar honor atau gaji vaksinator, penyimpanan vaksin dan seterusnya.

"Ketiga menurunnya daya beli masyarakat karena pandemi, salah satu sumber kita ada di pajak BBNKB (bea balik nama kendaraan bermotor, red) dari masyarakat yang membeli mobil baru. Kita tidak mungkin memaksakan semua orang untuk beli mobil atau motor baru kan," paparnya.

Mori optimis, pada tahun ini perputaran uang atau pergerakan ekonomi di daerah mulai terdongkrak dengan diselenggarakannya event-event internasional. Tidak hanya ekonomi, sektor pariwisata dan UMKM turut membaik.

"Kita harapkan juga kasus Covid-19 ini melandai ya, sehingga pergerakan ekonomi semakin membaik. Paling tidak gap kita tahun berikutnya tidak ada kekhawatiran," pungkasnya. (ewi/r10) Editor : Baiq Farida
#APBD NTB #Mori Hanafi