”Isu ini jadi bagian yang tidak terpisahkan dari isu kesehatan secara utuh. Manusia yang sehat itu tidak hanya pada fisik, tapi juga jiwanya,” kata Direktur Pembangunan Kesehatan Masyarakat dan Kemanusiaaan YAKKUM Arshinta.
Shinta mengatakan, sejauh ini belum ada data spesifik di Indonesia yang memetakan secara utuh mengenai kesehatan jiwa. Termasuk angka bunuh diri. Namun, jika dilihat prevalensi dari WHO, 1 dari 4 orang dalam satu periode kehidupannya, mengalami masalah kejiwaan yang cukup serius. Walaupun sifatnya tidak permanen.
Kondisi tersebut kian memprihatinkan jika melihat layanan kesehatan jiwa di Indonesia. ”Kurang dari 10 persen baru bisa dipenuhi kebutuhan layanan, 90 persen sisanya belum mencukupi,” tutur Shinta usai sarasehan isu kesehatan jiwa bersama tokoh lintas agama.
Berangkat dari fakta tersebut, Yakkum bersama Black Dog Institute dan Emotional Health for All, yang merupakan organisasi nirlaba yang concern pada masalah kesehatan mental, mengajak seluruh pihak untuk terlibat. Salah satunya tokoh lintas agama.
Terlibatnya tokoh agama, disebut Shinta menjadi sangat penting. Para tokoh agama diharapkan bisa berperan aktif untuk mengurangi stigma terhadap orang dengan masalah kejiwaan. ”Semua ajaran agama itu baik. Dan itu bisa menjadi sumber solusi. Itu yang membuat kami yakin gerakan ini bisa berdampak dan digaungkan saat G20 nanti,” beber Shinta.
Hadir dalam sarasehan kemarin KH Miftahul Huda yang mewakili Majelis Ulama Indonesia (MUI); Pdt Jackelyn Manuputty dari Persekutuan Gereja di Indonesia; Pdt Ary Mardi Wibowo dari Jakarta Praise Church Community; Romo Y Aristanto mewakili Komisi Waligereja Indonesia.
Ada juga KH Sarmidi Husna mewakili PBNU; drg I Nyoman Suarthanu dari Parisada Hindu Darma Indonesia; dan I Wayan Sianto yang merupakan Perwakilan Umat Budha Indonesia. Selain itu, Prof Musdah Mulia dari International Center for Religions and Peace turut ambil bagian.
Katib Syuriyah PBNU KH Sarmidi Husna mengatakan, di NU telah diputuskan dalam muktamar NU bahwa tidak ada lagi penyebutan majnun atau orang gila. Yang ditujukan pada orang dengan masalah kesehatan jiwa.
”Sudah kami ganti dengan Muqtala atau orang yang sedang dalam cobaan,” katanya.
Ketua Walubi NTB I Wayan Sianto kemudian memperkuat pernyataan tersebut. Menurutnya, masalah kesehatan jiwa bukan aib. Sehingga keluarga hingga lingkungan perlu mengambil peran bersama untuk mendampingi orang dengan masalah kesehatan jiwa.
”Keluarga ini menjadi benteng,” tegasnya.
Sementara itu, peneliti dari Black Dog Institute dr Sandersen Onie menyebut, terdapat potensi kerugian cukup besar bagi Indonesia. Akibat masalah kesehatan jiwa yang tidak tertangani dengan baik di setiap tahunnya.
”Angkanya itu sekitar Rp 582 triliun, setara dengan 4 persen GDP,” ungkapnya.
Dampak lain yang tak kalah parahnya adalah peningkatan penggunaan narkoba. Tumbuh kembang anak yang tidak maksimal akibat dibesarkan orang tua dengan masalah depresi kronis.
”Kemenkes mencatat bunuh diri, merupakan penyebab kematian tertinggi kedua bagi individu di usia remaja akhir,” katanya.
Sandersen menerangkan, setiap kematian akibat bunuh diri akan berdampak sedikitnya pada 135 orang terdekat. Dalam bentuk trauma mendalam, kehilangan asuhan atau nafkah, kesedihan berkepanjangan, hingga bisa menyebabkan munculnya ide bunuh diri lainnya.
Ini merupakan fenomena yang disebut sebagai penularan bunuh diri, di mana individu yang pernah mendengar kasus bunuh diri di sekitarnya memiliki kemungkinan lebih besar melakukan tindakan bunuh diri juga.
Jika terjadi pada usia remaja, masalah kesehatan jiwa dapat berlanjut hingga dewasa. Sehingga bisa berpengaruh pada kualitas hidup mereka dan generasi keturunan berikutnya.
Sehingga Sandersen menilai masalahkesehatan jiwa menjadi isu sangat fundamental. Solusinya bisa dilakukan dengan pendekatan lokalistik dan budaya masing-masing. Hingga melibatkan tokoh-tokoh agama.
Karena itu, dalam sarasehan kemarin, tokoh lintas agama mendeklarasikan bahwa isu kesehatan jiwa tidak bisa lagi dipandang sebagai aib dan disembunyikan. Tapi menjadi masalah kemanusiaan yang perlu ditangani dengan segera. (dit) Editor : Administrator