Zul menerangkan, menyelenggarakan tes pramusim itu tidak gratis. Ada biaya yang harus dikeluarkan. Di sisi lain, ketika pramusim digelar, tidak ada penonton yang hadir. Kalaupun ada, jumlahnya sangat sedikit. ”Sehingga tidak sesuai antara pengeluaran dengan pemasukan,” ujarnya.
Kata Zul, Indonesia Tourism Development (ITDC) maupun Mandalika Grand Prix Association (MGPA) tentu berhitung untuk menyelenggarakan tes pramusim. Sebagai perusahaan negara, setiap penyelenggaraan eventnya harus menghasilkan keuntungan.
”Kalau cost terlampau besar, kan bisa rugi. Dan itu tidak boleh, ini kan perusahaan negara, bukan perusahaan sendiri,” jelas gubernur.
Kondisi tes pramusim tahun depan berbeda dengan tes di tahun ini. Sebagai sirkuit baru, ITDC dan MGPA perlu mempromosikan Sirkuit Mandalika. ”Sesederhana itu saja. Antara biaya yang dikeluarkan itu relatif jauh lebih banyak dibandingkan incomenya,” kata Zul.
Direktur Utama MGPA Priandi Satria menerangkan, pelaksanaan tes pramusim bukan dengan penunjukan dari Dorna Sports. Tapi usulan dari pemilik sirkuit kemudian disetujui Dorna. ”Misalnya ada beberapa usulan, Dorna memilih dan menyetujui sirkuit mana yang akan dipakai untuk pramusim,” kata Priandi.
Di balapan MotoGP musim 2022, MGPA memang mengajukan Sirkuit Mandalika untuk menjadi host tes pramusim. Alasannya, setelah World Superbike (WSBK) di November 2021, Sirkuit Mandalika belum mendapat status grade A untuk homologasi, agar bisa menyelenggarakan MotoGP.
Karena belum mendapat kepastikan homologasi, MGPA mengundang Dorna melalui tes pramusim. Agar Dorna bisa melihat langsung kondisi sirkuit. ”Setelah pramusim itu, kami diberikan cek list apa yang perlu diperbaiki. Apa yang hanya saran dan yang menjadi keharusan. Dari sana dasarnya,” jelasnya.
Selama pramusim di Mandalika, MGPA menanggung biaya yang telah disepakati. Seperti biaya untuk memasukkan logistik ke Indonesia, listrik, hingga operasional selama pramusim.
Biaya-biaya yang keluar tidak diimbangi dengan pemasukan. Pramusim dilaksanakan tanpa penonton. MGPA pun tidak ada menjual tiket. Karena tidak ada penonton, sponsor pun tidak tertarik. ”Artinya di sana MGPA harus membayar sendiri,” kata Priandi.
Nah, untuk tahun depan, MGPA memang tidak mengajukan Sirkuit Mandalika untuk tes pramusim. Apalagi status sirkuit grade A telah dikantongi untuk menyelenggarakan balapan Grand Prix. Ditambah lagi dengan tidak adanya perubahan jumlah tikungan dan panjang sirkuit.
”Buat apa mengajukan kalau buang uang. Tinggal balap saja langsung,” tandasnya. (dit/r5) Editor : Rury Anjas Andita