“Sebuah kado kemerdekaan dari ujung Pulau Sumbawa yang menginspirasi makna perjuangan PLN untuk melistriki dan menghadirkan terang ke seluruh penjuru negeri, khususnya Provinsi Nusa Tenggara Barat,” kata General Manager PLN Unit Induk Pembangunan Nusa Tenggara (UIP Nusra) Wahidin penuh syukur.
SUTT 150 kV Bima-Sape memiliki panjang 62,82 kilometer sirkit (KMS) dengan 91 tapak tower. Melintasi 4 kecamatan dan 13 kelurahan/desa. Tersambung dari GI Bima di Desa Rabadompu Barat, Kecamatan Raba, Kota Bima, menuju GI Sape di Desa Parangina, Kecamatan Sape, Kabupaten Bima.
Wahidin mengatakan, keberhasilan yang diraih pada HUT kemerdekaan RI tersebut, ke depan mampu menghadirkan kualitas layanan kelistrikan yang makin efisien, andal, dan berkualitas.
“Ini merupakan wujud komitmen PLN untuk mendorong pertumbuhan investasi dan perkembangan ekonomi, terlebih lagi paska pandemi Covid-19 dua tahun ke belakang. Ini tentunya menjadi pencetus semangat untuk sama-sama pulih lebih cepat dan bangkit lebih kuat,” katanya.
Operasi penuh sistem transmisi ini akan terinterkoneksi dengan sistem tol listrik Sumbawa. Sehingga menghubungkan ujung barat dan ujung timur Pulau Sumbawa.
PLN menginvestasikan lebih dari Rp 190 miliar Untuk meningkatkan keandalan sistem tersebut. Dimluai dari pembebasan lahan dan konstruksi proyek pembangunan infrastruktur kelistrikan itu sendiri.
Sementara itu General Manager PLN Unit Induk Wilayah NTB Sudjarwo mengatakan, suksesnya pengoperasian SUTT 150 kV Bima-Sape dan GI 70 kV Sape memberikan dampak signifikan pada sisi penyaluran tenaga listrik. Ini akan meningkatkan keandalan sistem dan kontinuitas penyaluran energi.
Pengoperasian itu, lanjutnya, PLN bisa menghemat biaya pokok produksi dan biaya operasional hingga Rp 2,5 miliar per tahun, karena beberapa pembangkit yang menggunakan solar bisa berhenti beroperasi. “Sebuah angka yang signifikan dan sangat sejalan dengan semangat transformasi yang dilaksanakan PLN,” ujar Sudjarwo.
Dia menambahkan, tantangan yang dihadapi PLN tidak hanya menyediakan layanan kelistrikan yang andal. Tetapi juga harus mampu merespons kebutuhan pelanggan dengan cepat dan memetakan potensi-potensi pertumbuhan beban, khususnya di NTB.
PLN juga mengantisipasi kebutuhan beban di Pulau Sumbawa, terutama dari aktivitas pengembangan tambang emas yang operasionalnya direncanakan menggunakan listrik dari PLN. “Kami harus menyediakan listrik yang andal, menyala 24 jam penuh dengan kualitas yang baik untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga, investasi pariwisata, dan tentunya dunia industry,” tutup Sudjarwo.
Untuk diketahui, saat ini rasio elektrivikasi di NTB sebesar 99,9 persen. Sistem kelistrikan Pulau Sumbawa sendiri memiliki daya mampu 159.530 kilowatt (kW) dan jumlah beban sebesar 111.820 kW. Artinya terdapat daya cadangan sebesar 47.710 kW. (*/r1) Editor : Administrator