Ia mengatakan, saat ini BNPB tengah menyusun Satu Data Bencana Indonesia (SDBI). Kemudian memilih tiga provinsi, yang dalam beberapa tahun terakhir pernah ditimpa bencana alam skala besar, sebagai pilot projectnya.
”Di NTB sendiri kan di 2018 itu ada musibah gempa bumi, banyak orang yang terdampak. Dan sekarang berlanjut ke pandemi covid,” ujarnya.
Mengenai data kebencanaan, Sahdan menyebut NTB tidak berangkat dari titik nol. Katanya, Pemprov telah memiliki data global dalam NTB Satu Data. BPBD NTB nantinya akan memilah berdasarkan kategori kebencanaan. Dilihat dari jenis bencana hingga wilayah yang terdampak bencana.
”Nanti setelah dipilah itu, kami akan bawa ke BNPB untuk masuk dalam SDBI,” sebut Sahdan.
Pemprov NTB sangat mendukung upaya BNPB terkait satu data kebencanaan. Menurutnya, data tersebut sangat penting bagi pemerintah maupun masyarakat. Sebagai upaya mitigasi bencana di Provinsi NTB. ”Ini untuk ketangguhan menghadapi bencana,” katanya.
Nantinya, data akan diubah menjadi informasi untuk dianalisis pihak yang berkompeten. Hasil analisa tersebut menjadi acuan bagi pemerintah untuk merumuskan strategi hingga kebijakan saat menghadapi situasi bencana.
”Jadi pemerintah bisa lebih mudah menyusun kebijakan. Mengantisipasi terkait persoalan kebencanaan berdasarkan karakteristik wilayah masing-masing,” tandas Sahdan. (dit/r5) Editor : Rury Anjas Andita