Ia mengatakan, masa transisi ini harus disikapi masyarakat dengan kewaspadaan. Ada potensi terjadinya hujan dan cuaca ekstrem lainnya, yang terjadi dengan tiba-tiba.
Berdasarkan data BKMG, curah hujan di wilayah NTB pada dasarian II September 2022 didominasi kategori rendah. Di bawah 50 mm per dasarian. Namun, sebagian kecil wilayah di Kabupaten Sumbawa Barat (KSB) dan Bima di bagian selatan curah hujannya masuk kategori menengah, yakni 51-150 mm per dasarian.
BMKG mencatat, curah hujan tertinggi terjadi di Pos Hujan Sekongkang, KSB, dengan curah hujan mencapai 114 mm per dasarian. ”Kalau dilihat pada dasarian I September, sifat hujan di wilayah NTB bervariasi, dari bawah normal hingga atas normal,” sebutnya.
Adapun dari hasil monitoring Hari Tanpa Hujan Berturut-turun (HTH), NTB masuk pada kategori sangat pendek hingga ekstrem panjang. HTH dengan kategori ekstren terpantau pada wilayah Kecamatan Woha, Kabupaten Bima sepanjang 115 hari.
Ia menambahkan, pada dasarian III September 2022 terdapat peluang curah hujan dengan intensitas di bawah 20 mm/dasarian. Terjadi di sebagian wilayah NTB dengan probabilitas di atas 50 persen.
”Itu di sebagian Lombok Timur bagian utara, sebagian KSB, dan Sumbawa bagian utara,” ujarnya.
Lebih lanjut, Ulfah mengatakan, BMKG memperkirakan kondisi La Nina di NTB akan terus berlangsung selama periode September hingga November. Kemudian melemah hingga menuju kondisi netral.
Terdapat pertemuan dan belokan angin di wilayah Kalimantan bagian tengah, Lampung dan perairan Laut Natuna. Hingga awal Oktober 2022, angin timuran diperkirakan akan tetap aktif. Kemudian pada bulan November, angin baratan diperkirakan akan mulai aktif wilayah barat dan tengah Indonesia.
”Rata-rata anomali suhu muka laut sekitar NTB berada pada kondisi hangat. Diperkirakan hingga November 2022,” tandasnya.
Sementara itu, Kalak Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) NTB Sahdan menyebut dengan masuknya masa peralihan musim, masyarakat perlu untuk meningkatkan kewaspadaan. Terutama di wilayah-wilayah yang menjadi langganan bencana saat musim hujan. (dit/r5) Editor : Rury Anjas Andita