Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Imbas Penarikan Obat Sirup, Omset Apotek Turun 30 Persen

Baiq Farida • Rabu, 26 Oktober 2022 | 12:14 WIB
TURUN OMSET: Pengunjung membeli sejumlah obat disalah satu apotek di Kota Mataram, Selasa (25/10/2022). (Dewi/Lombok Post)
TURUN OMSET: Pengunjung membeli sejumlah obat disalah satu apotek di Kota Mataram, Selasa (25/10/2022). (Dewi/Lombok Post)
MATARAM--Omset penjualan apotek turun hingga 30 persen di Kota Mataram. Semenjak ditariknya lima obat sirup yang ditarik dari peredaran, karena mengandung cemaran Etilen Glikol (EG) dan Dietilen Glikol (DEG) melebihi ambang batas aman sehingga diduga menjadi pemicu gagal ginjal akut yang dialami anak-anak diduga karena obat sirup.

Ditambah kondisi cuaca yang tidak menentu menimbulkan berbagai penyakit, seperti demam, batuk dan pilek. Membuat masyarakat membutuhkan obat untuk pemulihan. Sayangnya, karena adanya isu gagal ginjal akut menjadi kekhwatiran mereka membeli obat, terutama obat sirup bagi anak-anak.

"Menurun omsetnya, apalagi sekarang ini banyak yang batuk pilek. Kalangan anak-anak membutuhkan sirup, karena tidak semua bisa minum tablet," ujar Eva, salah satu apoteker di Apotek Cendana Ampenan, Selasa (25/10/2022).

Ia menjelaskan, untuk pemberian obat kepada anak-anak dalam bentuk tablet dibutuhkan resep dari dokter. Artinya tidak dapat sembarangan diberikan. "Makanya sekarang kebanyakan menurun omset dari apotek, mungkin sekitar 30 persen," tambahnya.

Seperti diketahui, berdasarkan surat edaran obat sirup yang ditarik dari peredarannya yakni Unibebi Cough Sirup (obat batuk dan flu), produksi Universal Pharmaceutical Industries dengan nomor izin edar DTL7226303037A1, kemasan Dus, Botol Plastik @ 60 ml. Serta ada Termorex Sirup (obat demam), produksi PT Konimex dengan nomor izin edar DBL7813003537A1, kemasan dus, botol plastik @60 ml. Dimana kedua obat sirup tersebut ada di apotiknya.

"Itu berdasarkan surat edarannya, kita (apotek,res) kembalikan ke tempat kita ambil obat atau di-retur, kita cuma punya yang dua itu, tapi kita samakan nomer betnya sama atau tidaknya," terangnya.

Untuk permintaan dari masyarakat sendiri, diakui, sejauh ini masih banyak yang belum mengetahui bahwa beberapa obat sirup telah ditarik peredarannya. Sehingga dari pihak apoteklah yang memberikan pemahaman bahwa beberapa obat sirup yang dicari ditarik dari peredaran karena ada kandungan Etilen Glikol (EG) dan Dietilen Glikol (DEG) melebihi ambang batas aman.

"Karena tidak semua masyarakat mengetahui informasi ini. Kami informasikan terus disosialisasikan ke masyarakat," terang Eva.

Bagi masyarakat yang ingin membeli obat sirup sementara ini, kata dia, dari apotek mengarahkan untuk membawa anaknya ke dokter. Namun bagi anak-anak yang diusia kurang dari 2 tahun bisa menggunakan obat oles seperti balsem.

Terpisah, salah seorang masyarakat Vedra Okta Samira mengatakan, sangat khawatir dengan adanya kabar gagal ginjal akut pada anak-anak. Apalagi diduga karena obat sirup, hal tersebut menjadi perhatian orang tua untuk lebih berhati-hati.

"Untuk saat ini sangat khawatir dan untuk mencari solusinya, kita berharap pemerintah memberikan penanganan dengan cepat untuk kasus ini," ujarnya.

Dikatakan, jika obat sirup dilarang mungkin bisa saja menggunakan obat herbal atau langsung membawa ke dokter. "Bisa pakai rempah-rempah dulu atau madu untuk mengganti obat sirup. Kami harap ini segera ditangani," pungkasnya. (ewi/r10) Editor : Baiq Farida
#apotek #BBPOM Mataram #Obat Sirup