Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Tahun Depan, Ekonomi NTB Diperkirakan Tumbuh Lima Persen

Rury Anjas Andita • Minggu, 4 Desember 2022 | 09:30 WIB
Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia (KPw) NTB Ahmad Fauzi (Dewi/Lombok Post)
Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia (KPw) NTB Ahmad Fauzi (Dewi/Lombok Post)
MATARAM-Bank Indonesia memperkirakan tahun 2023 ekonomi NTB akan tumbuh pada kisaran 4,8-5,6 persen (yoy). Dengan tingkat inflasi yang berpotensi kembali ke rentang target nasional.

"Namun menjadi tantangan perekonomian di NTB adalah bagaimana kita bisa mempertahankan percepatan pemulihan ekonomi di tengah risiko inflasi dan kompleksitas tantangan perekonomian global yang tinggi," ucap Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia (KPw) NTB Ahmad Fauzi, Jumat (2/12).

Menghadapi tantangan tersebut, Bank Indonesia telah merencanakan sejumlah inisiatif untuk 2023. Pada sektor pertanian, perlu terus didorong pemanfaatan teknologi digital untuk meningkatkan kapasitas produksi dan efisiensi biaya (sisi hulu) dan perluasan pasar dan akses pembiayaan (sisi hilir) melalui program Digital Farming dan Onboarding UMKM.

Kemudian, optimalisasi daya saing komoditas ekspor non tambang melalui inovasi hilirisasi produk bernilai tambah tinggi. Pemulihan aktivitas ekonomi produktif yang berdimensi masyarakat dan UMKM  secara end to end process. Selanjutnya, mendorong pengembangan ekonomi syariah melalui hebitren dan Masyarakat Ekonomi Syariah. Mendukung pertumbuhan ekonomi daerah melalui ketersediaan uang rupiah layak edar secara tepat jumlah, kualitas, dan waktu.

"Peningkatan dan perluasan transaksi menggunakan QRIS melalui edukasi dan user experience yang lebih masif. Mendorong pertumbuhan kredit yang seimbang dan inklusif pada sektor-sektor prioritas," paparnya.

Sepanjang 2022 perekonomian NTB secara konsisten mencatatkan pertumbuhan yang tinggi. Inflasi NTB pada Oktober 2022 tercatat 6,57 persen (yoy), masih cukup tinggi meski sudah sedikit melandai dari bulan sebelumnya yang mencapai 6,84 persen (yoy). "Kondisi ini bukan menggambarkan pesimisme tetapi inilah tantangan yang perlu kita atasi untuk pemulihan ekonomi yang semakin kuat," katanya.

Dari sisi sistem pembayaran tunai, kata dia, rata-rata perputaran uang mencapai Rp 1,48 triliun sepanjang tahun 2022. Sedangkan untuk sistem pembayaran non tunai terus mengalami pertumbuhan terutama untuk uang elektronik dan Alat Pembayaran Menggunakan Kartu (APMK) serta QRIS per Oktober 2022 yang telah mencapai 203.254 users atau tumbuh 589 persen year to date (ytd).

"Mencermati perkembangan indikator terkini, Bank Indonesia memperkirakan ekonomi NTB tumbuh untuk keseluruhan tahun 2022 pada kisaran 6,4-7, 2 persen (yoy)," jelasnya.

Dalam rangka mendukung obyektif pelaksanaan tugas Bank Indonesia di NTB guna menjaga stabilitas harga dan mendukung pertumbuhan ekonomi, Bank Indonesia menerapkan lima strategi prioritas. Antara lain, pengembangan ekonomi dalam rangka pengendalian inflasi; pengembangan ekonomi berorientasi ekspor; pengembangan ekonomi yang berbasis ekonomi syariah; pengembangan ekonomi digital; dan pengembangan ekonomi yang inklusif.

"Di mana upaya pendekatan yang dilakukan adalah melalui role modelling dan end to end process pendampingan yang diimplementasikan ke dalam berbagai program kerja," terang Fauzi.

Selama 2022, Bank Indonesia berupaya untuk melakukan pengendalian inflasi daerah melalui pengembangan 9 (sembilan) klaster untuk komoditas penyumbang tekanan inflasi terbesar. Yakni klaster cabai rawit, klaster bawang merah, klaster bawang putih, klaster padi, telur ayam ras dan sapi. Selain itu, Bank Indonesia bersama TPID di tingkat provinsi maupun kabupaten/kota telah melakukan berbagai langkah pengendalian inflasi melalui penerapan strategi 4K (Keterjangkauan Harga, Ketersediaan Pasokan, Kelancaran Distribusi, Komunikasi yang Efektif).

"Diantaranya mencakup koordinasi yang semakin intensif,  peningkatan frekuensi Operasi Pasar Murah dan sidak pasar, dan pelaksanaan Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP)," pungkasnya. (ewi/r5) Editor : Rury Anjas Andita
#Bank Indonesia #Pertumbuhan Ekonomi NTB