Perubahan ini mulai dilakukan saat lomba di lapangan pacuan kuda Sasake, Lombok Tengah (Loteng) di awal pekan ini. Zul menyebutnya sebagai sejarah. Sebab, dengan perubahan arah belok kuda dari kiri ke kanan, menjadi awal dari keseriusan para pihak dalam mempersiapkan event-event pacuan kuda.
”Ini juga sebagai langkah persiapan PON ke-28. Jadi harus bersiap dari sekarang,” sebut Zul.
Bukan saja perubahan pada arah belok kuda di arena pacuan. Zul mengatakan, kuda-kuda besar, sesuai dengan regulasi yang berlaku, turut berlaga. ”Karena kudanya besar, otomatis sudah bukan joki cilik lagi yang mengendalikan,” ujarnya.
Zul menegaskan pemprov serius menghilangkan joki cilik dari arena pacuan kuda tradisional. ”Yang pasti pemprov serius untuk mengubah ini. Tapi tentu butuh waktu,” kata Zul.
Perubahan joki cilik di arena pacuan kuda dipastikan terjadi. Tentu seiring dengan perubahan standar saat perlombaan pacuan kuda, yang disesuaikan dengan standar nasional. Yang mengatur secara detail soal umur joki, berat kuda, hingga arah lari kuda di arena.
”Tapi kan pelan-pelan perubahannya. Misalnya soal lari kuda, di sini belok ke kiri, sementara aturan nasional itu ke kanan. Nah, mengubah dari kiri ke kanan itu butuh waktu juga,” jelasnya.
Penggunaan joki anak di arena pacuan kuda mendapat kritik luas. Kata Zul, ia paham betul bagaimana pacuan kuda berjalan. Di sisi lain, kritikan terhadap joki anak, disebutnya sebagai sesuatu yang wajar.
”Wajar punya persepsi yang berbeda. Bisa keliru, tapi tidak sepenuhnya salah juga. Karena kalau terlampau konfrontatif, justru tidak menyelesaikan masalah,” kata Zul.
Zul menegaskan, perubahan juga akan terkait dengan penggunaan alat pelindung diri yang lengkap, untuk joki yang bertanding. ”Dan memang tidak boleh ada lagi eksploitasi. Saya termasuk yang tidak setuju, kalau misalnya ada orang tua memaksa anaknya jadi joki dan meninggalkan sekolah,” tegas Gubernur. (dit/r5) Editor : Rury Anjas Andita