Rencana kerja usaha atau RKU disusun investor untuk proyeksi selama 10 tahun ke depan. RKU ini akan dibawa Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK), untuk disahkan.
Rum menyebut, setelah FS dan DED rampung serta RKU disahkan Kementerian LHK, investor akan melakukan penyusunan analisis mengenai dampak lingkungan (Amdal). Yang penyusunannya paling cepat selama tiga hingga empat bulan.
”Kalau RKU sudah disahkan, itu baru bisa bikin Amdal. Nah, kalau Amdal sudah selesai, baru mereka bisa lakukan pembangunan,” jelasnya.
Meski belum mengantongi Amdal, investor diketahui telah melakukan kegiatan groundbreaking pada 18 Desember 2022. Rum berdalih tidak ada masalah dengan kegiatan tersebut. Sebab, investor telah mengantongi upaya pengelolaan lingkungan dan upaya pemantauan lingkungan (UKL-UPL).
Rum menyebut kegiatan pada 18 Desember tersebut sebagai soft groundbreaking. Bentuk sosialisasi kepada masyarakat di Desa Karang Sidemen, Kecamatan Batukliang Utara, yang menjadi titik mula kereta gantung Gunung Rinjani.
Dengan sosialisasi ini, masyarakat diharapkan bisa mempersiapkan diri. Terutama dari sisi kemampuan SDM maupun peluang usaha lainnya. ”Jadi ketiga jadi ini barang, mereka sudah siap, menyesuaikan dengan kondisi investasi yang di sana,” kata Rum.
Kata Rum, karena pembangunan kereta gantung Rinjani mencapai panjang hingga 9 kilometer, maka investor memerlukan Amdal. ”Dengan Amdal mereka bisa bangun konstruksi kereta gantung,” tandas Rum.
Rencana investasi proyek kereta gantung diperkirakan mencapai Rp 2,2 triliun. Sebanyak Rp 600 miliar akan digunakan untuk konstruksi kereta gantung dan sisanya untuk membangun dua resort mewah, taman bunga, arena berkuda, hingga waterbom park. Proyek ini ditargetkan tuntas pada 2025.
Investasi pada sektor pariwisata ini diklaim Gubernur NTB Zulkieflimansyah tidak akan merusak lingkungan. Begitu juga mengenai kekhawatiran akan menghilangkan pekerjaan masyarakat. Khususnya porter Gunung Rinjani.
Zul menyebut kereta gantung ini bisa menjadi salah satu pintu masuk pariwisata NTB yang mendunia. Apalagi dengan banyakan event internasional yang digelar di Provinsi NTB. ”Wisatawan datang kan bukan hanya nonton balap. Ada yang nikmati alam, bisa melihat keindahan Rinjani dari kereta gantung,” kata Zul.
Integritas pemerintahan yang baik, diyakini Zul mampu memaksa investor agar tidak merusak lingkungan. Bahkan sebaliknya, investor turut terlibat dalam proses rehabilitasi terhadap lingkungan maupun kawasan hutan yang rusak.
Kereta gantung menjadi satu hal baru bagi masyarakat NTB. Sehingga wajar muncul riak penolakan. Yang disebut Zul penyebabnya akibat kurangnya sosialisasi dan komunikasi dengan masyarakat.
Karena itu, Zul berharap investor bisa mengajak masyarakat desa berkomunikasi lebih intensif. Diajak bicara dan dipersiapkan, sehingga tidak takut dengan perubahan. ”Bahkan nanti bisa mengambil bagian serta berkontribusi terhadap perubahan itu,” ujarnya. (dit/r5) Editor : Rury Anjas Andita