“Ziarah kubur ini dirangkaian dengan kegiatan halalbihalal. Jamaah yang hadir setiap tahunnya ribuan orang,” kata ketua panitia pelaksanaan ziarah kubur Semango TGH Muhammad Adnan Haris pada Lombok Post, Minggu (23/4).
Tradisi ziarah kubur berjamaah awalnya dicetuskan oleh almarhum TGH Muhsin Muhidin pada tahun 1990. Kata Haris, TGH Muhsin yang orang tuanya dimakamkan di pekuburan umum Semango menginginkan adanya sebuah kegiatan yang tidak hanya diisi dengan kunjungan biasa. Namun ada juga kegiatan silaturahmi atau halalbihalal dan pengajian di dalamnya.
Sejak saat itu juga, pada setiap tanggal 2 Syawal tahun hijriyah dilaksanakan kegiatan ziarah kubur berjamaah. Semenjak TGH Muhsin wafat, Haris melanjutkan kepemimpinannya dan meneruskan apa yang telah menjadi tradisi.
“Dalam sepuluh tahun terakhir, jamaah yang hadir bertambah. Mereka berdatangan dari semua penjuru desa di Lombok ini,” jelas Haris.
Dalam kegiatan itu juga, panitia bersama pengurus pekuburan umum Semango meminta sumbangan pada jamaah. Tahun 2022 lalu, jumlah sumbangan yang terkumpul sebanyak lebih dari Rp 11 juta. Pada ziarah kubur tahun ini, mereka mendapat lebih dafi Rp 10 juta. Kata Haris, amal yang terkumpul digunakan untuk pengelomaan pemakaman umum dan sebagian lainnya disumbangkan untuk pembangunan pondok pesantren.
Dijelaskan, masyarakat yang dimakamkan di pekuburan umum Semango berasal dari empat desa di Kecamatan Terara, yakni. Desa Santong, Leming, dan Suradadi.
“Luas makam ini 2 hektare,” jelasnya.
Mastur, seorang peziarah yang bermukim di Kabupaten Sumbawa Barat menerangkan, setiap tahun dirinya rutin menghadiri ziarah kubur berjamaah ini.
“Di sini keluarga saya dimakamkan. Dan tradisi ziarah berjamaah seperti ini sangat baik untuk tetap dilaksanakan,” katanya. (tih/r6) Editor : Kusmayadi,