Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Puluhan Hektare Tembakau di Lotim Terancam Gagal Panen, Ini Sebabnya!

Rury Anjas Andita • Selasa, 4 Juli 2023 | 12:00 WIB
WAKTUNYA PANEN: Petani tembakau di Lombok Tengah memanen daun-daun dari tanaman tembakau, belum lama ini. (Ivan/Lombok Post)
WAKTUNYA PANEN: Petani tembakau di Lombok Tengah memanen daun-daun dari tanaman tembakau, belum lama ini. (Ivan/Lombok Post)
SELONG-Puluhan hektare tanaman tembakau di wilayah Lombok Timur bagian selatan terdampak oleh hujan deras yang turun dari akhir Juni lalu. Anomali cuaca di luar prediksi petani tersebut telah menyebabkan daun tembakau menjadi layu.

“Kita ketahui hujan deras dalam dua tiga hari terakhir yang berturut-turut telah menyebabkan tanaman tembakau petani seperti yang kita lihat sekarang ini. Daunnya menjadi layu,” kata Kepala Bidang Perkebunan, Dinas Pertanian (Distan) Lombok Timur Mirza Sophian saat turun meninjau kondisi tembakau petani di Desa Bungtiang, Kecamatan Sakra Barat, Senin (3/7).

Anomali cuaca seperti sekarang ini dijelaskan bukan merupakan kejadian yang pertama kali menimpa petani tembakau di Lotim. Namun hal serupa juga terjadi di tahun-tahun sebelumnya.

Kata Mirza, dengan pengalaman tersebut, semestinya petani sudah terbiasa dan bisa mengatasi hal tersebut. Jika hujan tidak turun lagi, maka tanaman yang rata-rata baru berusia dua bulan tersebut masih bisa diselamatkan. Kendati hal tersebut membutuhkan biaya tambahan.

Berdasarkan laporan sementara yang diterima, tanaman tembakau yang terdampak berada di empat kecamatan di wilayah selatan. Mulai dari Jerowaru, Keruak, Sakra Barat, dan Sakra. “Sakra Timur kami belum dapat laporan,” ujar Mirza.

Anomali cuaca memang di luar kendali petani. Menurut Mirza, dengan kondisi cuaca yang tak menentu dalam beberapa tahun terakhir, berulang kali pihaknya melakukan sosialisasi tentang cara mengurangi dampak dari kondisi tersebut. Hal itu berupa pembuatan saluran drainase atau pembuangan air di ladang yang cukup baik.

Hal tersebut bisa dilihat, di mana beberapa tanaman tembakau yang terlihat masih bagus pasti memiliki drainase yang cukup dalam. “Tapi yang layu ini bisa kita lihat, semuanya hampir rata. Sehingga air tergenang cukup lama. Ini yang semestinya diperhatikan betul oleh petani kita,” jelasnya.

Sejauh ini pihaknya belum dapat memastikan berapa hektar lahan tanaman tembakau di Lotim yang terdampak oleh anomali cuaca tersebut. Jumlah pasti baru bisa dilihat setelah pihaknya turun melakukan pendataan secara menyeluruh. Mirza menjelaskan, memang tanaman yang sudah daunnya layu seperti itu terancam gagal panen. Sehingga ia kondisi cuaca akan membaik dan berpihak pada petani. “Karena sekali lagi ini di luar kendali kita,” tegasnya.

Muhammad Amin, salah seorang petani dari Desa Bungtiang yang tanaman tembakaunya terdampak hujan menerangkan jika ia sudah pasti mengalami kerugian. “Tentu rugi besar. Kalau sudah besar begini tidak bisa lagi diperbaiki. Kecuali masih kecil,” kata Amin.

Ia menjelaskan, kerugian bisa dua kali lipat dari modal awal. “Kalau modal Rp 60 juta, yang siap-siap kehilangan Rp 120 juta,” tuturnya.

Petani Loteng Butuh Bantuan Pupuk

Sementara itu, viral di media sosial terkait video kondisi lahan tembakau yang kekeringan di Desa Landah, Kecamatan Praya Timur dibantah Dinas Pertanian dan Perternakan (Dispertan) Loteng. Disinyalir video tersebut terjadi beberapa tahun lalu.

"Tidak ada, saya sudah cek turun Sabtu lalu, dari Landah, Marong terus ke Kidang tidak ada yang kering. Itu video lama," ungkap Kepala Bidang Pertanian dan Perkebunan Dispertan Loteng Zainal Arifin di ruang kerjanya, Senin (3/7).

Dijelaskan, saat turun lapangan diakui kondisi tanaman tembakau mulai layu. Sehingga petani berharap ada turun hujan, sebab mengandalkan air yang dibeli jumlahnya tidak mencukupi dengan kisaran harga Rp 150-180 ribu per tangki per satu hektare.

"Ada yang mau panen daun bawahnya, sehingga butuh air. Alhamdulillah hujan malam itu kan dan Minggu pagi," tambahnya.

Adapun luas tanam lahan tembakau di Loteng, kata Zainal, sekitar 9.500 hektare (ha) yang terbesar pada tujuh kecamatan. Mulai dari, Kopang, Janapria, Praya Timur, Praya Barat, Pujut, Praya dan Praya Tengah.

Selain air, petani tembakau juga membutuhkan bantuan pupuk mengingat tembakau tidak bisa mendapatkan pupuk bersubsidi sesuai Permentan Nomor 10 Tahun 2022. Sehingga Pemkab Loteng menyalurkan bantuan 334 ton pupuk non subsidi secara gratis melalui APBD sebesar Rp 5,8 miliar.

"Sudah kita berikan dulu pupuk NPK Plus, tapi tidak sejumlah yang mereka butuhkan. Agar merata, petani tembakau dapat 25 kilogram per ha dengan total luas lahan 10 ribu ha," katanya.

Ditegaskan, pupuk bersubsidi hanya untuk sembilan komoditas, yaitu  jagung, padi, kedelai, bawang merah, bawang putih, cabai, kakao, tebu rakyat, dan kopi.

"Dinas sudah menganggarkan untuk pembelian pupuk agar bisa membantu para petani tembakau. Dana digelontorkan oleh dinas dari dana bagi hasil cukai hasil tembakau (DBHCHT)," kata Zainal.

Ia mengatakan, pembagian bantuan pupuk tersebut dilakukan sesuai dengan luas tanam dan kelompok tani, karena anggaran bantuan terbatas. Para petani yang akan mendapat bantuan ini merupakan petani yang sudah masuk kelompok tani. (tih/ewi/r5) Editor : Rury Anjas Andita
#Distanbun NTB #Dispertan Loteng #Distan Lotim #tembakau