Reni sudah bisa bercerita tentang apa yang diaminya saat komisioner KPU Kota Mataram mengunjunginya. Meskipun sisa-sisa kesedihan terlihat di raut wajahnya.
“Alhamdulillah (keadaan sudah lebih baik),” ucapnya, saat ditanya kabar. Sebisanya ia tersenyum, menyenangkan tamu-tamu yang datang mengunjunginya.
Reni adalah Anggota Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) 25 Tanjung Karang, Sekarbela, Kota Mataram. Ia telah melewati peristiwa berat ketika bertugas menjadi anggota KPPS.
Seluruh tenaga dan pikiran dicurahkan menyukseskan agenda demokrasi di lingkungannya. Sampai Reni tak sadar, perutnya yang telah berisi jabang bayi alami keguguran.
“Awalnya saya tidak tahu kalau saya sedang hamil,” tuturnya di hadapan komisioner yang datang menjenguknya.
Saat itu, sebagaimana petugas penyelenggara yang lain, Reni berusaha menyelesaikan dengan baik tugas-tugasnya. Termasuk berkeliling lingkungan untuk menyebarkan surat undangan memilih pada warga.
“Jelang tiga hari pencoblosan, saya baru sadar kalau saya sedang hamil,” terangnya.
Kondisi itu diketahui setelah ia merasa ada yang tak biasa pada tubuhnya. Ia merasa mudah lelah dan pusing saat bekerja.
Setelah memeriksakan diri di puskesmas, Reni mendapat kabar gembira: kandungannya berisi janin. “Saya dan suami sangat bahagia. Ini adalah calon anak pertama kami,” kisahnya.
Setelah sembilan bulan usia pernikahannya calon buah hati sudah ada di dalam kandungannya. Reni dan suaminya sangat bersyukur dan berharap anaknya bisa tumbuh sehat selama dalam kandungan. Sampai tiba waktunya nanti untuk melahirkan.
Namun di sisi lain, Reni merasa punya tanggung jawab besar menyelesaikan tugas kepenyelenggaraan yang diamanatkan padanya. Lebih-lebih untuk bisa melaksanakan tugas negara itu seseorang harus mengikuti serangkaian bimbingan teknis (bimtek) dan persiapan lainnya.
“Saya pikir tugas ini akan terbengkalai, karena KPU harus rekrut orang lagi dan memberikan bimbingan teknis yang tentu akan butuh waktu lagi, kalau saya mengundurkan diri. Sedangkan waktu pencoblosan tinggal beberapa hari lagi,” imbuhnya.
Reni mengungkapkan ada perasaan khawatir KPPS-nya tidak maksimal mempersilakan pelaksaan pencoblosan. Di persimpangan jalan itu, Reni mengambil keputusan untuk tetap melaksanakan tugasnya sampai tuntas.
“Saya putuskan tetap bekerja melaksanakan tugas,” terangnya.
Hari-hari jelang pencoblosan, Reni berupaya mengatur waktu kerja dan istirahat yang cukup. Ia tak lupa mengelus perutnya sambil mendoakan sang buah hati diberikan kekuatan sampai tugasnya selesai.
Hari pencoblosan pun tiba. Reni dan anggota KPPS lain mulai bekerja sekitar pukul tujuh pagi untuk mempersiapkan segala sesuatunya.
“Pada hari H (pencoblosan) pekerjaan semakin padat, saya ikut begadang (menyelesaikan rekapitulasi suara) dengan teman-teman yang sudah luar biasa bekerja untuk kesuksesan pemilu,” tuturnya.
Hari itu tak hanya fisiknya yang bekerja. Tetapi pikiran juga tercurah maksimal.
Yang paling melelahkan adalah saat proses rekapitulasi perolehan suara. Reni dan anggota KPPS lain harus menghitung sebanyak lima model surat suara dengan kerumitan masing-masing.
Perhitungan yang melelahkan itu baru selesai sekitar pukul tiga dini hari. “Menjelang subuh, ada bercak darah yang keluar,” ujarnya.
Selain itu perutnya terasa sakit. Saat itu juga, suaminya langsung membawanya ke puskesmas.
“Hasil pemeriksaan saat itu, janin di perut saya katanya masih aman. (Kata yang periksa) bercak itu biasa. Intinya jangan tegang dan panik,” ujarnya.
Ia kembali pulang ke rumah. Tetapi masih saja merasakan sakit di bagian perut.
“Suami lalu membawa saya ke rumah sakit,” imbuhnya.
Hasil di rumah sakit pun sama. Pemeriksaan menunjukkan kandungannya masih baik-baik.
Ia pun kembali lagi ke rumah untuk istirahat. Namun saat akan buang air kecil ia dikagetkan dengan gumpalan darah sebesar dua jari.
“Saya kembali ke rumah sakit, hasil pemeriksaan menyatakan saya mengalami keguguran dan harus dikuret,” ucapnya.
Para komisioner yang menjenguk Reni ikut larut dalam kesedihan. Beberapa di antaranya berkaca-kaca. Apa yang dialami Reni bukan sesuatu yang harus dipilih dan diinginkan terjadi.
Namun dedikasi Reni pada tugas dan tanggung jawabnya membuat para komisioner menyampaikan terima kasih yang mendalam. “Tidak ada yang menginginkan kejadian (keguguran) ini, tetapi Bu Reni saya rasa telah melaksanakan tugasnya dengan penuh tanggung jawab,” kata anggota komisioner KPU Kota Mataram Muslih Suaib.
Hari itu juga, KPU Kota Mataram menyerahkan santunan senilai Rp 8,5 juta pada Reni.
“Terima kasih atas dedikasinya yang luar biasa, santunan tersebut bukan untuk menggantikan apa pun. Semoga dapat membantu pemulihan kesehatan beliau. Kami semua tidak akan melupakan dedikasinya yang luar biasa pada demokrasi,” tutupnya. (lalu mohammad zaenudin/r3)
Editor : Marthadi