LombokPost-Sepanjang periode 1 Januari – 31 Maret 2024, Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) NTB H Ahmadi menyebut telah terjadi bencana alam sebanyak 54 kejadian.
”Dari jumlah tersebut, bencana yang paling sering terjadi yaitu bencana banjir atau banjir bandang dengan 22 kejadian,” terangnya, Senin (1/4).
Kemudian cuaca ekstrem dan angin puting beliung 23 kejadian, tanah longsor enam kejadian dan gelombang pasang atau banjir rob sebanyak 3 kejadian.
Tentu saja, kerugian yang ditimbulkan akibat bencana tersebut tidak sedikit. Ahmadi sendiri belum bisa menaksir berapa kerugian materiil, namun yang pasti saat terjadinya bencana banjir misalnya, warga harus mengungsi karena rumah beserta isinya hanyut dibawa banjir dan tidak sedikit pula rumah warga mengalami rusak berat, sedang dan ringan.
Dampak lainnya, dari bencana banjir membuat tanggul sungai jebol, sehingga biaya perbaikan akan bertambah, tak kalah menjadi perhatian, infrastruktur jalan rusak akibat banjir, banyak sawah petani yang baru ditanam dan berpotensi gagal panen di musim tanam. “Beginilah kondisinya,” kata dia.
Di tengah situasi tersebut, Tim Reaksi Cepat (TRC) BPBD tak pernah lelah melakukan assessment dampak bencana dan mendistribusikan bantuan berupa makan siap saji dan logistik lainnya. ”Teman-teman di momen seperti ini memang siaga 24 jam,” ujar mantan sekretaris Dinas PUPR NTB ini.
Saat ini wilayah NTB berada pada periode peralihan musim hujan menuju musim kemarau, masyarakat perlu mewaspadai adanya potensi bencana hidrometeorologi seperti hujan lebat disertai angin kencang yang dapat terjadi secara tiba-tiba dan bersifat lokal, banjir dan tanah longsor.
Selain itu, masyarakat dapat memanfaatkan hujan yang turun untuk mengisi penampungan air seperti embung, waduk, atau penampungan air hujan lainnya.
“Tetap perhatikan informasi BMKG dan BPBD guna mengantisipasi dampak bencana maupun kerugian dalam perencanaan kegiatan masyarakat ke depan dan tetap selalu menjaga kesehatan,” pungkasnya. (yun/r11)
Editor : Akbar Sirinawa