LombokPost-Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) NTB mengimbau para petani Bumi Gora, terutama pada daerah tadah hujan menghemat pemanfaatan air untuk kepentingan penanaman padi musim tanam kedua.
Sebab NTB segera akan memasuki musim kemarau yang panjang.
’Kondisi air irigasi menjadi terbatas,” terang Kepala Pelaksana BPBD NTB H Ahmadi.
Apalagi dengan kondisi air di bendungan atau embung yang ada di NTB belum terisi dengan penuh akibat El Nino yang terjadi sejak akhir tahun lalu.
Dirinya menyebut, penghematan dalam penggunaan air di musim tanam kedua, karena padi adalah salah satu jenis tanaman yang paling banyak membutuhkan air.
”Maka penghematan air untuk persawahan bertujuan agar petani tidak mengalami gagal panen saat musim tanam kedua tahun ini, jadi harus betul-betul irit air,” ujarnya.
Namun, apabila tetap ingin menanam padi, Ahmadi juga menyarankan agar luas area tanam bisa dikurangi.
”Misalnya di musim tanam I, nanam padi bisa sampai delapan petak, bisa dikurangi jadi lima atau empat petak, karena itu tadi, padi paling banyak pakai air,” kata dia.
Sementara itu, memasuki musim tanam ketiga tahun ini, Ahmadi memperkirakan jumlah air menjadi sangat sedikit.
Sehingga ia menyarankan kepada para petani agar tidak lagi menanam padi, melainkan hanya palawija. Hal ini untuk mengantisipasi risiko gagal tumbuh karena kelangkaan air.
Terlebih, puncak musim kemarau 2024 di sebagian besar wilayah Indonesia diprediksi terjadi pada bulan Juli dan Agustus bahkan hingga September.
“Yang kami maksud dari pengiritan air adalah petani mesti menerapkan manajemen tanam dengan sebaik-baiknya. Jangan terlalu banyak menanam padi, terutama pada wilayah yang sulit air,” pungkasnya. (yun/r11)
Editor : Kimda Farida